RSS

Tag Archives: rabthul

Curhat

Wahai al akh ukh yang shodiq/shodiqoh,

Lihat, saya mau menumpahkan sesuatu. Kalau ada yang bisa diambil maka silakan diambil. Jika tak ada yang bisa…harus dibaca n diliat-liat lagi. Kali aja ada satu-dua kata yang bermanfaat untuk dipungut. Hahah *mekso. Ini benar-benar tumpahan. Bagian dari proses menyadarkan diri sendiri. Curcol, heheh.

Gara-gara cerita temen sekamar tadi malem, saya jadi seperti dibangunkan (kembali) dari comfort zone ini. Memaksa netes-netes dan guling-guling sendirian merutuki diri. Dilanjutkan smsan panjang lebar sama salah seorang teman-berbincang-apa-saja. Apa pasal? Begini :

Saat ini saya sedang dalam masa peralihan. Saya saja? Mungkin Anda juga sih. Itulah kenapa saya tulis di sini.
Nah, sebuah peralihan memang seringkali tidak nyaman. Ada sesuatu yang harus dimulai, ada zona baru yang harus dimasuki. Ada target-target yang harus lebih dirinci. Dan kali ini saya bicara tentang sesuatu yang mungkin baru sangat sedikit kita jamah pas jadi mahasiswa dulu. Dulu? Eh. *nyengir. Yasudah, intinya hidup kita kini tak lagi di kampus yang kabarnya idealis itu. Tak lagi dengan masalah-masalah mahasiswa : yang hedon, susah diajak taklim tapi berjubel kalau ada konser musik, yang kesulitan SPP, yang takut terikut aliran sesat, yang butuh bimbelan, yang IPKnya naik turun, deelesbe. Sekarang kita hidup bukan lagi di lingkungan homogen. Malasahnya nambah : yang hedon dan lupa sama sekeliling, yang susah diajak taklim tapi berjubel kalau ada konser musik boyband atau keti peri atau layar tancep sekalipun , yang kesulitan perekonomian keluarga, yang sudah terikut aliran sesat, yang butuh sekolah gratis, yang mabok, yang mencuri, yang berjudi, yang kupu-kupu malam, yang paginya Mas Gagah tapi malemnya jadi Mbak Cantik, yang korup, yang penjilat, yang suka gosip, yang garong, yang dipaksa mengemis, manymore.

Merasakah bahwa itu menjadi tanggung jawab bagi KITA?

Betewe, kita?
-siapa kita? FATETA!! Siapa kita? FATETA!! Hahah itu sih jargon jaman MPF-.

Maaf melantur.

Pas SMA dulu pernah diajak ke masyarakat. Tapi strateginya salah. Seratus persen penolakan saya terima. Konsepnya rabthul ‘amm, tapi prosesnya terlalu instan. Apalagi masyarakat desa yang susah menerima perbedaan. Kalo kata orang-orang bijak sih, harus ada asas manfaat dulu, harus pedekate, menerjunkan diri di keseharian mereka, mendapat kepercayaan. Jika mereka ikut, itu adalah bonus. Tapi setidaknya mereka tidak menjadi penentang.

Saya teringat cerita seorang mbak yang beberapa hari lalu ikut seminar bedah buku “Dilema P*S” dari Radar Bogor. Ada seorang narasumber yang memprotes lahan dakwahnya diambil. Meminta P*S menentukan, sebenarnya mau ngambil lahan di bagian mana sih? Tentu saja mengundang senyum. Semua yang di dalamnya harus ditegakkan kalimatullah, maka di situ adalah lahan, Pak. Jadi mari bareng-bareng saja…

So, apakah di situ masalahnya? Dipandang nyeleneh oleh awam, dipandang rival oleh rekan. Padahal sebenarnya tidak seperti itu teorinya bukan? Hah. Bicara teori dah.

Membersamai masyarakat memang tidak mudah, kabarnya. Fitnah dimana-mana. Kita berhadapan dengan kultur, berhadapan dengan kebiasaan, berhadapan dengan adat yang telah ada bertahun-tahun, berhadapan dengan karakter yang sangat heterogen.

Bagaimana persiapannya?

Bening hati. Itu permulaannya menurut saya. Tazkiyatun nafs yang terus menerus, agar setiap langkah yang akan dilakukan mendapatkan tuntunan-Nya.
Lalu mengenali masyarakat kita. Memperkenalkan figur sosok pemuda Islam yang berakhlaq karimah, yang amanah.
Langkah selanjutnya menyesuaikan. Saya tidak berani menulis karena saya belum menjalankannya.

Ini sekadar perenungan permulaan. Dangkal, mungkin. Beberapa cuplikan dari yang didengar telinga dan dilihat mata, sampai saat ini. Betapa banyaknya tanggung jawab dan pekerjaan…

(also posted in my fb-note)

 
Leave a comment

Posted by on May 5, 2012 in Aroundisasi

 

Tags: