RSS

Tag Archives: Punishment

Punishment=Education ?

Sesuatu bernama “kesalahan” sangat-sangat-sangat sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, baik dilakukan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, baik yang merugikan orang yang melakukan kesalahan, maupun merugikan kepentingan bersama.

Jika seseorang bersalah terhadap orang lain, ataupun merugikan kepentingan bersama, maka pilihannya 2 : dimaafkan, atau mendapat konsekuensi bernama hukuman. Kedua pilihan itu tentu dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu, seperti tingkat kesalahan, berapa banyak kerugian yang diakibatkan, sengaja/tidak dalam melakukan kesalahan, ada tidaknya aturan yang telah disepakati, dsb. Dalam kehidupan bernegara kita mengenal kitab undang-undang hukum pidana, yang dijadikan rujukan dalam menetapkan hukuman atas suatu kesalahan. Sidang yang ketat pun dijalankan ketika ada suatu kasus hukum terjadi.

Bagi saya, seseorang layak memberikan hukuman kepada orang lain jika dan hanya jika antara si penghukum dan pihak yang dihukum telah ada kesepakatan sebelumnya.

Allah memberikan hukuman bagi hamba-hambaNya yang ingkar sesudah menurunkan Al Quran dan mengutus Rasulullah SAW untuk mengejawantah perintah dalam tataran kemampuan manusia biasa, dan selamanya Dia memelihara kemurnian ajaran Islam hingga akhir zaman. Kewajiban menjalankan perintah sebagai konsekuensi penghambaan pun telah ditetapkan jauh-jauh waktu, ketika Allah meminta kesaksian sebagai hamba dengan bertanya “Alastu birobbikum”, dan dijawab serempak oleh para ruh dengan “Balaa syahidna”. Di dalam Al Quran digambarkan dengan jelas bentuk hukuman yang akan diterima ketika seseorang melanggar perintah Allah. Pemuda yang berzina dicambuk dan diasingkan, orang yang sudah menikah berzina maka dihukum rajam, orang yang membunuh menerima qisas, dan seterusnya.

Dan betapa hukum Allah itu adil. Tak pandang bulu bagi siapa yang melakukan. Seperti sabda Rasulullah : “Sungguh, ketika Fatimah putri Muhammad mencuri, maka akan kupotong tangannya,….”.

Dalam konteks pendidikan, proses menghukum bukan hanya proses membuat jera karena rasa takut, tetapi juga proses membangun kesadaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab. Seperti para napi yang dihukum pun diberikan pembinaan agar bisa menjadi orang yang lebih baik ketika keluar dari penjara.

Dan ini menuntut satu kata : Kebijaksanaan. Oh Rabb, betapa menjadi adil dan bijaksana itu begitu sulitnya… Hanya Engkau yang sanggup mengeksekusi kedua kata tersebut dengan begitu sempurna.

Sebelum memberikan hukuman dan memberikan pembinaan, seorang pendidik hendaklah mereview diri apakah dia sudah menjadi contoh yang baik, apakah ketegasan yang ia berikan kepada anak didiknya juga ia berikan kepada dirinya sendiri, dan apa yang dia lakukan terhadap diri sendiri ketika dirinya sendiri melakukan kesalahan. Seperti seorang sahabat yang langsung menginfakkan kebunnya lantaran ia telat sholat berjama’ah karena keasyikan mengurusi kebunnya, seperti seorang Ka’ab bin Malik yang sabar menjalani pengasingannya lantaran kelalaiannya tidak ikut berlaga di Tabuk.

Disiplin diri seorang pendidik sangat menentukan hasil didikannya. Sungguh sangat disesalkan apabila seorang pendidik termasuk ke dalam golongan yang disebut Allah dalam QS As Shaff ayat 3.

Maka,

Sebelum mendisiplinkan orang lain, disiplinkan diri sendiri.

Keras terhadap diri sendiri dan lemah lembut kepada saudara sesama muslim.

Proporsional dalam menghukum.

Berikan hukuman sesudah ada kesepakatan dan pengertian, sehingga hukuman tidak menjadi kekesalan dan dendam, tapi menjadi kesadaran dan perbaikan diri.

-ngomongsamakaca-

 
Leave a comment

Posted by on September 10, 2012 in Aroundisasi

 

Tags: , ,