RSS

Tag Archives: Katalis

B + AC -> AB + Catalyst

Menu berikut tersaji hasil kombinasi beberapa bahan yang secara acakadut berhasil diformulasikan. Standar Operational Procedure-nya dibuat ala saya. Tulisan ini adalah refleksi mimpi saya, jika kejadian yang saya alami 27 Romadhon kemarin kembali persis saya alami di Romadhon 1449 H. Silahkan di-orlep. Jika rasanya tak sesuai dengan lidah Anda, maka silakan di-re-modif dengan SOP sendiri.
Secara sangat khusus teruntuk diri sendiri, secara agak khusus teruntuk saudara-saudara Catalyst, dan secara umum teruntuk bagi seluruh pembaca-penengok-pelirik tulisan ini.

27 Romadhon 1449 H. Siang. Bogor.

Toyota QQXX hitamku baru saja keluar dari pintu tol jagorawi ketika jam menunjukkan pukul 14.30. Siang di akhir Romadhon itu cukup terik. Si kecil Bara sedang pulas di pangkuan, Badar pun sedang terlelap di jok belakang. Di sebelahnya, Laily tengah komat kamit. Di tangannya majmu’at kecil terbuka menampilkan baris-baris arba’in. Kunjunganku ke Bogor kali itu karena undangan dari pengelola Catalyst Foundation, Shobar* (bukannamasebenarnya). Ada acara buka bersama sekaligus beberapa agenda penting lainnya.
Aku menoleh ke driver di sebelahku yang mulai tampak kelelahan.

“Yah, kita istirahat di masjid raya saja ya…”, suamiku mengangguk.

Ketika belok ke arah masjid raya Bogor, baru kurasakan ada yang aneh. Ternyata ban depan mobil kempes. Bapak-bapak parkir di pinggir jalan berteriak mengingatkan sambil menunjuk-nunjuk ban mobil depan. Kubuka kaca depan, “Pak, di dekat sini bengkel dimana ya Pak?”

“Oh ada di sana Bu, putar balik lalu ke arah belakang terminal, ada bengkel di situ…”. Aku mengangguk sambil berterimakasih.

Bengkel belakang terminal itu…sebentar! Memoriku seperti terputar kembali ke masa lalu. Ketika itu akhir Romadhon,, emmm 1433, kalau tidak salah, sepulang dari gramedia memburu kertas A4 100 gram yang tak ada di belahan dunia manapun, ban motorku kempes, lalu aku dan kawan seperjalanan terpaksa nongkrongin bapak bengkel menambal ban selama sekitar setengah jam.

Tapi… bengkel yang sekarang rupanya bukan bengkel yang dulu itu. Bengkel ini lebih besar, dengan area yang lebih luas sehingga bisa memuat mobil. Peralatannya lengkap, dan pekerjanya pun lebih banyak. Si bapak-bapak bengkel datang menyambut dan menanyakan masalah kami. Si bapak ituh! Hm… berarti bengkel ini bengkel yang dahulu itu. Wah wah, sudah berkembang sebegini pesatnya!

Si bapak pemilik bengkel segera menugaskan anak buahnya untuk mengurus mobilku. Sementara ia mempersilakan kami duduk di kursi tunggu, lalu ia kembali ke tempat duduknya di meja kasir. Kulirik mejanya, hm, tak ada lagi kopi panas mengepul seperti waktu itu. Dan kuperhatikan satu-per satu pekerja bengkel, tak ada satu pun yang merokok. Apakah mereka semua… emm…sedang shaum? Rasa penasaran menggelitik. Lalu kudekati bapak pemilik bengkel.

“Ngomong-ngomong Pak, pas masih mahasiswa dulu saya pernah kesini pas ban motor saya kempes. Tadi saya hampir pangling, bengkelnya sudah maju pesat rupanya…”

“Hahaha…yah begitulah Bu, hasil jerih payah sama kawan-kawan ya gini ini lah jadinya…” jelasnya sumringah.

“Ooh…saya senang Pak melihatnya, apalagi bapak-bapak di sini tidak merokok lagi seperti waktu itu, emm…apa karena sedang puasa ya Pak?”

Si bapak tertawa ringan. “Habis bagaimana lagi Bu, saya sering diceramahin sama anak saya. Katanya sudah tua, harus tobat. Sejak ngaji di pesantren tuh dia jadi begitu…rajin sholat, rajin puasa pula. Malu saya jadinya..hahaha.”

Aku bengong sesaat. “Ooh jadi anak bapak sekarang di pesantren?”

“Iya. Itu yang pesantren gratis itu Bu, dari Yayasan Umar…emm…apalah itu namanya, punya alumni IPB katanya. Saya ditawarin sama mereka, yasudah saya masukin lah anak saya kesitu. Dari pada nggak sekolah jadi berandalan macam teman-temannya dia nanti.”

Yayasan Umar? Apa yang dimaksud…

“Yayasan Umar bin Khattab ya Pak? Yang di Darmaga ya Pak?”

“Iya iya itu… bagus itu di situ Bu. Semua gratis. Biaya hidup ditanggung. Tapi sejak bengkel saya maju, saya urus anak saya sendiri, cuma pesantrennya saja yang gratis.”

Aku tambah bengong. Begitu rupanya…Yayasan Umar bin Khattab milik bersama teman-teman seangkatan-seperjuangan di IPB dulu, rupanya kiprahnya mulai melebar. Ah ya. Mungkin reuni plus buka bersama nanti sore sekaligus akan membahas perkembangan Yayasan ini, yang merupakan salah satu hasil perkembang-biakan dari Catalyst Foundation.

Hm…aku senyum-senyum. Lalu berpamitan untuk kembali ke tempat dudukku semula. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Penjual minuman yang dulu pesta keripik di sebrang jalan kini tak ada lagi. Kini ada kedai kecil di situ. Di pintunya tertulis kalau selama Romadhon hanya buka sore sampai malam. Mungkinkah punya si penjual waktu itu? Entahlah.

Pemandangan di kanan-kiri bengkel pun jauh berbeda. Di samping pembangunan fisiknya yang sangat terlihat berubah, perilaku orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar situ pun berbeda dari sewaktu dulu aku nongkrong setengah jam di sini. Tak ada lagi gerombolan anak punk yang dulu melingkar di depan bengkel, bukan sedang liqo, tapi sedang main kartu. Tak ada lagi pengamen-pengamen kecil yang berteriak-teriak sambil minum teh gelas. Tak ada lagi hal-hal yang membuat ber-ckck dan istighfar berulang kali, seperti waktu dulu itu.

“Bunda, Bunda,” Laily membuyarkan nostalgiaku. “Hadits ini maksudnya apa? Kasih contohnya donk Bunda.”
Aku membaca hadits yang dimaksud. Eh, hadits ini. Hadits bernuansa sindiran telak yang dulu kutunjukkan ke teman seperjalanan, di sini, sambil menunggu tambal ban. Hadits arba’in ke 20.

“Sesungguhnya, sebagian dari apa yang bisa dipetik oleh manusia dari kata-kata kenabian yang pertama ialah : Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”(HR. Bukhari).

Lalu kuceritakanlah cerita masa lalu itu. Laily menyimak antusias. Tentang orang-orang di sekitar terminal itu, 15-an tahun yang lalu. Perilaku mereka yang sangat tidak menghormati bulan Romadhon : makan-minum-merokok di tempat umum, main kartu, teriak-teriak sembarangan. Seperti tak ada rasa malu sama sekali, tak menyadari bahwa bulan itu adalah bulan shaum.

“Lalu kenapa bisa berubah seperti sekarang, Bunda?”.

“Rahmat Allah, Nduk. Allah memberikan titik terang kepada pejuang-pejuang Islam di Bogor ini. Kondisi keIslaman masyarakat di sini semakin membaik. Oleh sebab itulah, kita harus berusaha istiqomah dalam berdakwah ya…Insyaallah Allah akan memberikan balasan terbaik-Nya. Salah satunya seperti ini…”. Duh. Hampir meler gw mengisahkan ini. Laily berusaha mencerna, keningnya berkerut, matanya lurus menatapku, sambil mengangguk-angguk.

“Hmm…Baiklah. Aku akan menulis kisah ini. Setelah liburan nanti aku akan menceritakan kisah ini di depan kelas. Nanti Bunda periksa tulisanku ya!” serunya. Aku tersenyum.

Sebelum pulang, aku mengambil sekotak sarung dari jok belakang, sarung dari tokoku yang sedianya akan dihadiahkan ke salah seorang mualaf yang dibimbing oleh Shobar ketika proses “kembali-fitri”-nya. Kuhampiri bapak pemilik bengkel.

“Pak, saya ingat, dulu saya membawa kertas A4 3 rim yang bapak kira sarung. Dan dulu bapak bilang mau minta satu. Ini pak, saya bawakan sekarang. Maaf sekali ya Pak, baru bisa membawakannya sekarang…”

End.

Semoga mimpi ini terwujud. Tak hanya serupa ini tapi lebih. Tak hanya di Bogor tapi juga di tempat-tempat lain. Seluas-luasnya. Entah 10, 15, 20 tahun lagi, atau ketika para pejuang-pejuang Catalyst telah seluruhnya meninggalkan dunia ini.

Semoga Allah menjaga kita, dalam ukhuwah dan dakwah.

 
Leave a comment

Posted by on September 10, 2012 in Cerita Kata

 

Tags: