RSS

Tag Archives: ilmu

Mei_Rah_Jambu

Minggu 20 Mei, Hari kebangkitan hati (kembali). Gara-gara dua pembicara inspiratif yang menggugah. Sedikit share hasil nongkrongin mereka selama sekitar 3,5 jam di Seminar Pra Nikah FKMC, FPIK, IPB :

Mbak Asma said : Jangan menikah hanya karena jatuh cinta. Karena rasa jatuh cinta itu akan menghilangkan semua-mua yang seharusnya dipersiapkan untuk bekalnya. Akan menjadikan lupa pada 5 persiapannya, yang kata Ustadz Salim, bukan hanya dipersiapkan ketika menjelang masa pernikahan tetapi juga sepanjang hidup kita :

1. Ruhiyah
Jika menikah adalah menyempurnakan setengah agama, maka mari lihat pada diri kita bagaimana kini kita menjalankan yang setengah sekarang ini. Apakah sudah istiqomah kurvanya ? Jika belum, bagaimana bisa siap menanggung setengah lagi ?

2. Tsaqofiyah
Membaca buku-buku tentang ta’aruf, pernikahan, mendidik anak, dsb, bukan sesuatu yang tabu lah ya harusnya. Meski sering di-cie cie dan di-ehm ehm-in, stay cool aja mbak, mas…
Secara, ketika sudah menjalani nanti belum tentu akan ada waktu untuk belajar (lagi).
Dan kata Ustadz SAF, harusnya baca buku-buku seperti itu udah dibaca pas dari jaman kelas satu esempe -wew!-. Tapi karena sudah telat, yasudahlah mari persingkat prosesnya menjadi satu-dua semester atau satu-dua tahun ke depan… jadi SKS dah.

3. Jasadiyah
Siapa yang pengen punya banyak anak? Heheh. Baru beberapa waktu kemarin dapet sms dari seorang-teman (ijin codif ya) :
Riwayat seorang nenek (62 tahun) :
– Tahun 2005 pensiun mengajar setelah 40 tahun mengajar
– Memiliki 19 anak, 16 anak kandung dan 3 anak angkat (anak yatim)
– 15 anak pertama lahir 15 tahun berturut-turut, anak ke 16 lahir 5 tahun sesudah anak ke 15.
– Tidak ada anak yang kelaparan
– Mulai ngajar umur 12 atau 14
– Menikah umur 18
– Ketika ada program KB, beliau tidak mau ikut.

Nalo, salah satu persiapan penting untuk menikah adalah persiapan jasadiyah. Kalo mau punya banyak anak seperti Ibu di atas, maka bersiap-siaplah wahai para calon ibu (ini hanya dalam kasus anak ya, beloman bicara tentang tugas-tugas rumah tangga sehari-hari, yang saya perhatikan membuat beberapa akhwat pasca menikah menjadi lebih kurusan, gak semua siih…). Para calon bapak juga nih, siap-siap bekerja ikhlas, keras, cerdas, untuk menafkahi istri n putra-putrinya kelak.

4. Maaliyah
Buat para ikhwan, bagaimanapun persiapan maaliyah itu penting. Gimana kalo ntar calon istrinya minta mahar Fortuner yang gress ? hahah. *itusihkebangetan.
Gak gitu juga sih.
Pembahasan seputar ini kiranya banyak lah ya, intinya masalah finansial juga merupakan salah satu yang perlu dipersiapkan.
Nah untuk para calon ibu, gw jg insyaallah, mari latihan manajemen keuangan… ntar bakal jadi ibu-ibu DPR, Dewan Pinansial Rumah, seumur umur. Yang bakal menerima proposal-proposal pengajuan dana dari anak-anak, bakal menyusun anggaran bulanan, bakal menjadi petugas penjaga brankas suami, yah seputar itulah.
Karena kata ustadz Salim, rumah tangga kadang bermasalah bukan karena tidak terampil mendapatkan uang, tapi karena tidak terampil dalam menghabiskan uang.

5. Ijtimaiyah
Sempat saya singgung di tulisan sebelumnya tentang hidup bermasyarakat. Secara, kita-kita para akhwat tidak pernah tahu bakal dijodohin Allah sama orang mana. Maka, persiapan untuk terampil bergaul secara sosial menjadi penting. Pun kalau kita jodohan sama tetangga sebelah rumah, pun setelah menikah tinggal di sebelah rumah, tetap saja ada banyak hal dalam masyarakat yang harus dipelajari, hal-hal yang menjadi berbeda antara sebelum dan setelah menikah.
Yang bagian lebih beratnya nih, menikah adalah membuat basis bagi diri, pasangan, dan anak-anak, agar menjadi pondasi-pondasi masyarakat yang kuat. Nah, karena tak semua keluarga memiliki kesadaran untuk membangun pondasi yang kokoh, maka bagi yang sudah sadar memiliki tanggung jawab lebih untuk menyadarkan yang belum sadar. Saya melihat ini pada beberapa rumah tangga sukses para dai-daiyah di sekitar saya kini. Mereka yang rata-rata telah “beres” dengan rumah tangganya, Allah lanjut menguji dengan membebani mereka masalah-masalah rumah tangga orang lain untuk ikut andil menyelesaikan, jadi tempat curhat dari sana sini.

Next,
Dari ustadz Salim lagi, kriteria seseorang siap menikah adalah ketika seseorang itu menikah bukan karena ekspektasi tapi obsesi. Ekspektasi artinya menginginkan pasangan dan kehidupan ideal pasca menikah, sebagai contoh (ambil diri sendiri aja dah) : gw pengen nikah sama Shahrukh Khan (secara gw ngefens berat sama die pas jaman kanak-kanak dulu) biar sering dibawa ke luar-luar negeri, hidupnya seneng coz nyanyi-nyanyi terus sepanjang hari, ganteng pula, weeeh… hush. hush. Insap Eyeee.

Nah, jadikan menikah sebagai obsesi, dimana tekad yang ada adalah menjadikan diri dan keluarga bersama-sama menjadi lebih baik, lebih bermanfaat, lebih shalih, lebih berjaya ketika di laut dan lebih banyak menang ketika di darat (singkatnya : Jalesveva Jayamahe… #eh).

Last, beberapa high quality quote :

“Kita harus bersiap ketika prosesnya datang cepat maupun datang lambat, atau bahkan sangat lambat menurut pandangan khalayak” (LL). Jadi jomblo kerennn.

“QS. Ar Rum : 21 menyiratkan konsep kesejiwaan dalam hal jodoh. Dan kesejiwaan terjadi ketika ruh-ruh saling mengenal, dan mereka saling mengenal karena ikatan IMAN” (SAF). Juga QS 24:26.

“Saya saat ini tidak terlalu mengharap pernikahan di dunia, tapi saya sangat mengharapkan pernikahan di surga” (MFK). Ya. Kematian jauuuuh lebih dekat dari apapun rencana kita.

Sekian.

Untuk yang esok akan menghalalkan, selamat berproses menuju sakinah, mawaddah, dan rahmah.

#Kepiting rebus lompat-lompat
Jatuh ke sungai terbawa arus
Sepenuh jiwa ana ucapkan selamat
Semoga Allah memberkahi selalu,
Ukhtuna Seztifa Miyasiwi

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on May 25, 2012 in Cerita Kata

 

Tags: ,