RSS

Tag Archives: ibu

rintik

Dan malam, dan hujan.
Ya Allah semoga Kau turunkan keberkahan bersama hujannya.
Mengantarku menjemput takdir terbaik-Mu.
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari berlarian di bawah hujan.
Meski sayapku basah,tak apa.
Masih ada lilin kecil yang menanti untuk menghangatkannya.
Biar ia menungguku barang sebentar lagi.
Ia masih setia, meski sedikit pedih.
Aku tak tahu itu jenis keluarbiasaan macam apa.
Cuma bisa menetes dan membisik permohonan terbaik.
Maafkan bila membuatmu menunggu.
Aku akan pastikan, tidak setelah ini.Tidak.

 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2013 in Lookinside

 

Tags:

Aside

Juli 2012,
Aku pulang. Menjumpaimu masih dengan segala engkau yang kukenal dulu. Kecuali wajahmu yang semakin keriput, dan berbagai obat yang setia menemani di samping pembaringanmu.
Semangatmu, semangatmu masih. Bahkan engkau menambah kesibukan sekarang, dengan membuka warung kecil di rumah. Katamu, kau ingin menolong tetangga-tetangga kita, agar tidak terlalu jauh untuk sekadar keperluan kecil harian. Kusadari itu, karena laba yang kau tetapkan pun hanya sekadar saja. Sampai ku heran-heran. Ah, aku memang selalu heran-heran tentang kau, ding ^^.
Lalu datang surat itu, undangan reuni SMA. Antusias kau baca. Membacakan satu-satu nama teman-temanmu yang tertera di sana. Masih saja kau ingat mereka, detil bahkan. Tentang si bapak ini yang begini, tentang si ibu itu yang begitu, tentang perjuangan dan keberhasilan mereka…
Dan kisah-kisah heroikmu menempuh sejarah pendidikanmu, hhh, kembali aku merasa belum apa-apa.
Masa-masa 60-70an itu, saat jalanan desa kita masih tanah-batu, seragam sekolah masih susah didapat, apalagi alas kaki untuk sekolah. Juga uang sekolah yang harus kau usahakan sendiri dengan memikul hasil-hasil kebun, lalu berjalan berkilo jauhnya ke pasar. Juga kisah itu, kisah pulang sekolahmu saat petang-petang melewati hutan, yang kau bilang hampir tercebur ke sumur tanpa pagar. Kubayangkan kalau kau hilang saat itu tentu tak ada aku sekarang. ^^

Semua mengakar. Kesukaanmu berbagi, perasaanmu yang halus sangat, kemampuan diplomasimu yang luar biasa, kerelaanmu berkorban, kemampuanmu melakukan hampir ‘apasaja’, juga masakanmu yang enak :D.

Sering saat kita sedang bersama, kau bercerita tentang bermacam hal, meramunya menjadi pelajaran-pelajaran hidup. Dan baru kini kurasakan aku jadi sering menyebut namamu, “iya..kata ibu saya begitu..”. Rupanya banyak tentangmu telah terinternalisasi ya..

Dan kenang tentang masa bersamamu dulu, kini menumbuhkan tanya : mampukah aku menjadi sehebat engkau di mata anak-anakku nanti…?

Allahummaghfirlana dzunubana wali walidaina warhamhuma kama robbayana sighoro..

Love u, as always

 
Leave a comment

Posted by on October 13, 2012 in Cerita Kata

 

Tags: