RSS

Category Archives: Cerita Kata

Ya,cerita.

NO!

Last night bukber,
he
Mr AK

told us about this.

And the lesson…
#Bahwa bersabar itu lebih baik.
#Bahwa pembiasaan akan lebih mudah jika dimulai sedini mungkin.
#Bahwa pembiasaan itu butuh qudwah. Hasil cetakan adalah bagaimana pencetak.
#Bahwa segala bentuk perbuatan baik akan ada rintangannya. Sunnatullah. Maka di suatu titik akan kita sadari bahwa urusan kita hanya antara kita dan Allah.

Semoga bisa menjadi atau mencetak Ahmad Kalla-Ahmad Kalla berikutnya.
Yang ikhlas.
Yang sabar.
Yang berjihad dengan hartanya.
Yang always Allah oriented.

 
Leave a comment

Posted by on July 27, 2013 in Cerita Kata

 

Tags:

Beringin Kita

Pagi ini aku menunggumu di bangku kita, bangku taman kota di perempatan jalan itu. Tidak ada yang spesial sebenarnya. Aku datang karena kau memintaku datang. Seperti biasa saat kau butuh barang sejam-dua untuk memburai sekarung ceritamu.

Aku datang lebih awal. Mendengarkan cerita beringin besar yang meneduhi tempatku duduk. Beringin bilang ia tengah merindu teman-temannya yang bisa berkumpul di kebun kota seberang. Rinduu sekali. Aku kasihan melihatnya. Aku bilang padanya dia adalah beringin yang hebat dan kuat, yang berjuang sendirian di taman kota yang kecil ini, menaungi orang-orang yang datang, memberikan kesejukan, dia tak boleh bersedih seperti ini…

Tak lama burung-burung kutilang pun datang menghiburnya. Berjanji akan menyampaikan salam pada teman-temannya di seberang. Tapi burung-burung itu minta upah. Dan terjadilah tawar-menawar harga dengan si beringin. Lima salam untuk satu anak burung boleh bersarang. Sepuluh salam, kata beringin. Si burung tetap ngeyel, lima atau kami akan cari pohon lain. Baiklah, deal, kata beringin. Aku tersenyum puas dengan kesepakatan itu. Dan berangkatlah burung-burung kutilang ke kebun kota seberang.

Dari jauh kau berjalan pelan, tersenyum tipis dengan “seragam” biru kotak-kotak kesukaanmu. Kau sebut “seragam” karena hampir setiap kali kita bertemu pasti kau kenakan gamis itu. Tapi tunggu… semakin kau mendekat, aku semakin memastikan sesuatu. Sesuatu yang membuatku berkerut kening. Dan benar saja. Kamu hari ini berbeda. Bahkan sejak kata pertama kau mulai menyapaku.

Hari ini hari apa? tanyaku memotong ceritamu.

Tidak hari apa-apa, katamu.

Lalu?

Lalu apa?

Aku cuma diam. Entah kenapa aku cuma diam. Tak butuh kacamata kuda untuk tahu, kau berbeda hari ini. Bukan gamismu, bukan cara berjilbabmu, bukan sepatu barumu. Tapi…semuanya. Semua bahasa tubuhmu. Ah tidakkah aku telah cukup mengenalmu? Firasatku hampir tak pernah meleset. Baiklah. Aku akan menunggumu saja. Menunggu kau siap menceritakan apapun itu.

Dan ya. Akhirnya kau bercerita. Kau memang sama sekali bukan orang yang mampu memendam sendiri, bukan.

Tapi kali ini, aku tak menyangka. Kau tengah tersandung. Tersandung sesuatu yang telah berusaha kau tinggalkan sejak kau berhijrah. Kau sedang dekat dengan seseorang, katamu.

Hm, dekat? Aku mengerut.

Iya, sampai aku memimpikannya tadi malam. Dia itu… mewujud seperti kristalisasi semangatku. Kau pernah merasakannya?

Hm, tidak. Itu… sesuatu yang aneh menurutku. Haha. Apa kau pernah menghubunginya atau dia menghubungimu?

Em, ya. Sering, akhir-akhir ini. Semula aku risih tapi kami memang nyambung kalo ngobrol. Nyambung banget malah. Aku sih sebenernya biasa aja, tapi…

Apa? aku penasaran.

Tapi dia,,, dia membawa kembali warna-warni hidupku yang akhir-akhir ini hambar.

Warna-warni? Hanya dengan meneleponmu?

Kami… kami pernah janjian…

Aku membuang nafas berat. Lalu?

Kau hanya diam. Meleleh. Menelungkupkan wajah ke meja taman.
Pepohonan taman ikut mengiringi lagu bisu kita. Bahkan kucing kecil yang (tiba-tiba?) ada di sampingku pun tak berani bersuara.

Apa kabar adik-adikmu?

Kau menggeleng.

Kenapa tidak kau titipkan mereka kepada orang lain saja??? Kataku sarkas.

Kau semakin terisak.

Lalu bagaimana…? Aku…aku sadar sebenarnya…Tapi aku tak bisa mengatakannya… katamu lirih.

Aku beritahu kau rahasia laki-laki. Mereka itu kaum berharga diri tinggi yang tidak pernah membiarkan dirinya inferior. Kataku sok tahu.
Jadi gunakan saja cara itu untuk menjauh. Aku tak punya kata-kata untuk seorang kamu. Tapi ingatlah, adik-adikmu butuh qudwah!

Kamu menatapku tajam. Lalu memelukku sambil berbisik “doakan aku…”. Sebentar kemudian kau beranjak pergi dalam diam..

Tak ada kabar darimu esok dan esok dan esoknya. Aku tenggelamkan diri dalam rabithah. Menyebut lirih namamu. Adakah kau di sana merasa? Allah, tsabbit quluubanaa ‘ala diinik wa ‘alaa tho’atik.

Aku pun tak menghubungimu. Sampai seminggu kemudian kau bilang ingin bertemu. Di taman kota seperti biasa. Aku sengaja datang lebih awal. Hendak berbagi cerita lagi dengan beringin besar. Apakah salam rindunya berbalas? Ahha! dia bilang iya. Mereka bilang akan berkirim surat daun lewat burung kutilang. Aku memberinya selamat, ikut berbahagia.

Dari jauh kau tergesa menujuku. Aku mengamatimu. Masih dengan gamis biru kotak-kotak dan kerudung birumu yang melambai-lambai saat kau lari. Datang-datang kau menggamit tanganku.

Ayo kita ke kebun kota di seberang. Kita sampaikan surat daun dari beringin untuk teman-temannya.. Ayo! Ayo!

Kau tersenyum ceria mengajakku berlari. Aku melongo. Beringin juga cerita padamu? Ah dasar.

Eh sebentar,
hm.. Kau berbeda, hari ini. 🙂

Untukmu.
Karena keberkahan itu mahal, Kawan.

 
2 Comments

Posted by on July 16, 2013 in Cerita Kata

 
Aside

Mungkin setiap kita akan dihadapkan pada banyak hal, yang menyampaikan kita (kembali) pada kesadaran tentang premis awal : Allah tidak mencipta dengan sia-sia.

Maka, ishbirii ya Ain…
Bersabar hingga menemukan hasil darinya. Bersabar hingga mendapatkan apa yang Allah janjikan. Bersabar dengan kesabaran yang baik…

#catatan kenangan :
Menyiapkan generasi ‘ekseptasi’ 9 persen. Bukan tentang hasil, karena sama sekali tidak berwenang di ranah hasil. Hanya belajar memproses mereka untuk mampu menjadi manfaat di masa datang.

Bahan bakar terakhir : Aku hanya yakin insyaallah hari ini akan menjadi pelajaran berharga..

nine percent

 
Leave a comment

Posted by on November 28, 2012 in Cerita Kata

 

Tags:

wtjsk

Witing tresno jalaran saka kulino. #lagi

Ya benar. Kali ini mungkin saya bisa menamakan diri saya sebagai jatuh cinta. Apa namanya jika selalu selalu dan selalu kangen? apa namanya jika perhatian totally teralih ketika mendengar suaranya? apa namanya ketika merasa selalu seneng di deketnya? meski kadang gemes. heheh. Yah entah cinta yang jenis mana, tapi saya akan dengan senang hati untuk selalu bilang ini adalah….a little thing called love, untuk cowok satu ini…

lovely Hasan, sedang sakit nun jauh di sana...

Sekarang, bagaimana coba, Anda bayangkan, bagaimana perasaan seorang ibu yang diperintah menghanyutkan anaknya yang masih merah ke sungai? dan sungainya Nil pula. Ada kuda Nilnya mungkin, ada ABC-nya kalo kata Pak Ustadz : aligator, buaya, crocodile. Nah. Iman semacam apa itu? Maha Kuasa Allah yang meneguhkan hati hambaNya.
Sehingga selanjutnya ia pantas mendapatkan kebahagiaan selanjutnya : berjumpa kembali dengan putra tercintanya untuk disusui. Dan hampir-hampir saking gembiranya, sang Ibu mau nyeletuk “Ini anak Saya!” di hadapan Fir’aun. Tapi lagi-lagi Allah meneguhkannya…

Semoga, mampu menjadi layak dan lebih dan lebih layak untuk menerima peneguhan yang seperti itu…

 
Leave a comment

Posted by on November 26, 2012 in Cerita Kata

 
Aside

Witing tresno jalaran soko kulino. Begitu kata pepatah Jawa.

Seperti kata lagu alay-jadulnya Alda : aku tak biasa jika tak ada kau di sisiku…
hihihi.

Jadi, semua ini adalah soal pembiasaan. Biasa sms sampai keseringan dan ketagihan, biasa telpon jadi serasa ada yang kurang jika tidak nelpon, biasa ketemu jadi serasa separuh nafas hilang jika tidak bertemu. 😀

Maka, kesimpulannya,
Yen ora kulino, biso dadi jalaran ilange tresno.
Apa sih yang tidak bisa dilatih dari manusia?
Badan kerempeng bisa jadi berotot karena latihan, yang gemuk bisa kurusan karena latihan, yang ga bisa naik sepeda jadi bisa karena latihan.
Maka, insyaallah begitu juga hati.
Jika ia terbiasa pada taat, maka alarm hatinya otomatis melengking jika ia sedikit saja tidak taat.
Jika ia terbiasa pada maksiat, maka ia tak merasa berdosa dan malu lagi, sehingga ia terbiasa berbuat sesuka hatinya.

Begitu juga dengan perasaan. Perasaan itu menurut saya adalah sejenis clay yang bisa di formed-reformed,
hihi…#apapulak
ia bisa diwarna dengan sepuhan macem-macem seperti yang kita inginkan. Ia hanya satu dari tentara hati.

Jadi sekarang, tergantung, fujuroha au taqwaha yang akan dipilih. Dan kita akan terbiasa di situ.
Dan kamu, kamu, kamu, itu ya, adalah umat pilihan. Maka ya cobalah berkaca bagaimana kualitas diri sebagai umat pilihan (ngomongsamakaca). Bagaimana menyiapkan jawaban ketika nanti ditanya : “apa saja yang kamu kerjakan di organisasimu setahun terakhir?”.
Masa pantaskah jawaban “saya sibuk smsan alay sama ikhwan, saya juga sibuk ngurusin virus yang entah kenapa selalu menyerang saya secara brutal.”

Hhh.
Bagaimana menyelesaikan umat jika belum selesai dengan diri sendiri?
-merenung…

a little thing called….. ****

 
Leave a comment

Posted by on November 19, 2012 in Cerita Kata, Lookinside

 

Tags:

Aside

Betapa ya,
betapa jauhnya yang namanya masa lalu. Perjalanan mendekatinya hanya akan semakin menjauhkan kita darinya.

Romantikanya kembali terbuka saat kubuka catatan-catatan (alay) masa SMA. Ah. Banjir itu memaksaku membongkar bebukuan di kolong. Memaksaku membuka lagi serpih-serpih masa lalu. Lalu pagi ini melihat tulisan kenangan seorang teman tentang masa lalu SMAnya, masa-masa olimp, masa-masa yang sungguh kanak-kanak itu. heheh.

Dan dan daaan…
Sepertinya memang bagus jika dibuat cerpen, ya. Cuman ya, cumaan… itu pada akhirnya hanya pemuas keinginan hati untuk mengalay kembali. Kecuali jika dikemas dengan cara lain, bukan sekadar melonisasi diri. Heheh.

Cerita. Anak-anak kita nanti akan tumbuh bersama cerita kita. Cerita semacam apa yang akan membersamai mereka kelak?
*mikirbanget

Dan blog ini? Masih adakah ia nanti? untuk dibaca anak-anakku dan mengetahui betapa sungguh ibunya ternyata sangat “sesuatu sekali”. hihi…

Selamat Pagi Indonesia!
Mari memulai petualangan hari ini. Edisi 70kmph lebih dekat dengan Bogor ^^

ter-iyek, ter-alay, ter-angkum :p

 
Leave a comment

Posted by on November 7, 2012 in Cerita Kata

 

Tags:

Aside

Baban kali ini bukan nama boneka pisang-kuning-gedhe punya Watse yang pernah jadi maskot salam isc dulu itu, bukan.
Baban kali ini ada terusannya : babanjiir…babanjiiir…
Kami sedang setoran al lahab tadi malam, ketika kehebohan terjadi di lantai bawah. Dan ternyata…
Cathrina telah bermigrasi sampai ke Bubulak Sodara!
Mungkin karena kecapekan di jalan setelah lari ribuan kilo, jadi yang sampai Bubulak hanya napas pendek-pendeknya yang ngos-ngosan. Itu saja sudah mampu menggiring berliter-liter air ke kamar 4.
Dan hmm,,di saat malam-banjir-mati lampu-hujan-petir begini pun masih terdengar keriangan anak-anak. Mereka malah berlomba mengusir air dari lorong-lorong kamar dengan bantuan apa saja yang ada. Teriak kemenangan salah seorang mau tak mau membuatku mesem-mesem juga. Ah dasar anak-anak.
Kecuali ijazah salah seorang jendral kamar 4 yang kuyup,kecuali peer membongkar buku-buku di kardus yang kebasahan pagi ini, malam tadi tertuntaskan.
Dan pelajaran yang bisa diambil adalah :
1. Jangan menaruh barang-barang rawan-rusak-karena-air dengan langsung menyentuh lantai, alasi dengan plastik.
2. Buat konstruksi halaman anda lebih rendah daripada rumah anda, agar air tidak mudah masuk.
3. Sisakan zona resapan di halaman anda, jangan semuanya diimpermeabelkan.
4. Jika ada kejadian gawat darurat, segera agitasi massa untuk membantu, kecuali anda punya kekuatan mengendalikan air seperti percy jackson si putra poseidon #dongengyunani.
5. Bersabarlah, insyaallah setelah kesulitan-kecil semacam ini, akan ada kemudahan-kemudahan mengikuti.

‘ala kulli hal, air itu tetap saja adalah rahmat dan pengingat.
jadi, mari bersyukur dan berintrospeksi diri…

baban

 
Leave a comment

Posted by on November 6, 2012 in Cerita Kata

 

Tags: