RSS

petrified

08 Oct

Kisah ini… terlalu mengharubiru daripada kisah cinta macam manapun. Kisah ini tak lekang oleh waktu meski ribuan terbilang. Kisah ini abadi. Kisah ini…mampukah kita teladani kisah cinta ini?

Saat itu usai Hunain. Ghanimah melimpah. Berlembah-lembah. Pertimbangan manusiawi mengatakan, kaum Anshar lah yang paling berhak mendapatkan rampasan Hunain. Tapi Rasulullah justru membagikannya kepada para pemuka Thulaqaa, muallaf Mekkah yang paling depan dalam melarikan diri dari peperangan. Ada sesutu yang mengganjal. Sesuatu yang disampaikan Sa’ad bin Ubadah dan membuat orang-orang Anshar dikumpulkan di sebuah kandang kambing raksasa. Rasulullah datang dan berbicara kepada mereka.

“Amma ba’d. Wahai semua orang Anshar, ada kasak kusuk yang sempat kudengar dari kalian, dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah membuat kalian kaya? Bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian?”

Mereka menjawab, “begitulah. Allah dan Rasul-Nya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya”.

“Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang-orang Anshar?”
Tanya beliau.

Mereka ganti bertanya, “dengan apa kami menjawabmu, Ya Rasulullah? Milik Allah dan Rasul-Nyalah anugerah dan karunia”

Beliau bersabda, “Demi Allah, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku : Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lalu kami memberimu tempat dan menampungmu”.

“Apakah di dalam hati kalian masih membersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam, sedangkan keislaman kalian tak mungkin lagi kuragukan?”

“Wahai semua orang Anshar, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama domba dan onta, sedang kalian kembali bersama Allah dan Rasul-Nya ke tempat tinggal kalian?”

Dan isakan semakin keras. Janggut-janggut basah oleh air mata…

Dan akhir dari semua ini… “Kami ridho kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pembagian ini. Kami ridho Allah dan Rasul-Nya menjadi bagian kami…”.

(Selengkapnya di BMC, Salim A. Fillah hal 219-221)

Berlatih memandang dari sisi tawadhu.
Can we?

Karena kecintaan kita kepada saudara kita adalah karena cinta kita kepada-Nya. Mungkin ketika cinta itu terasa retak dan mengecewakan, yang pertama diintrospeksi adalah : apa kabar hubungan kita dengan Allah?

Ah ini teori. Selalu menjadi teori. Dan terus berupa teori. Sampai para mukminin mukminah membuktikannya dalam bahasa amal. Membuktikan bahwa ujian iman jenis apapun, akan berusaha kita lewati sebaik-baiknya…

Cinta kita, adalah sejenis cinta yang tak akan putus hanya oleh rasa kecewa, bukan? Aku merindukan pertemuan denganmu di surga. Bismillah…

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2013 in Lookinside

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: