RSS

Monthly Archives: September 2013

more

Itulah hebatnya pagi. Embun dinginnya begitu nyesss.. mengobati. Wajah-wajahnya hijau segar luar biasa. Pagi selalu memunculkan harapan baru. Bahwa esok masih ada. Bahwa hari ini akan ada keajaiban turun dari langit . Setidaknya menyadarkan, betapa sempitnya waktu yang masih tersisa. Umur yang tak tahu kapan ujungnya. Langkah yang masih menyisa debu-debu dosa. Dan waktu yang tak pernah mau sedetikpun menunggu.

Maka ketika upaya penjemputan telah mencapai optimalnya, sungguh kembali Dia tegaskan bahwa soal hasil adalah domain mutlakNya. Pada akhirnya, Tuhan dengan segala hikmatNya, meminta kita menunggu, untuk alasan yang penting (kata-kata keren punya gak tau siapa).
Dalam segala konteksnya, menunggu, selalu mendebarkan. Sedikitttt lagi saja…

 
Leave a comment

Posted by on September 26, 2013 in Uncategorized

 

30 Tahun Mendatang Anak Kita

[Ngopas sengopas-ngopasnya. Merinding. Ngejlebb. Ngaca.]

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau siapkan mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.

Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius.
Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.

Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.
Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?

Maka…, ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.
Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.
Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.

Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya kehancuran tiba..

#Robbi habli minassholihiin…

 
1 Comment

Posted by on September 23, 2013 in Uncategorized

 

buried elegy

Bunda, aku tak mengerti pada apa yang diperbuat malam. Ia mampu mengubah senyum menjadi seringai. Dengan gelapnya ia justru menyingkap tabir wajah palsu di sekelilingku. Ia runtuhkan sawar-sawar halus yang menghalangiku melihat kenyataan sesungguhnya. Ia mampu mengubah sesuka hati apa yang ingin ia ubah. Dan, dan, dan ia menceritakan padaku semua itu, Bunda… Cerita yang tak pernah sanggup kuceritakan kepada siapapun di dunia…pun padamu, satu-satunya penenang dalam hidupku…

Bunda mengapa binatang-binatang itu keluar hanya saat malam? Mengapa serigala terdengar aumnya di kala malam? Bunda, mengapa aku semakin takut akan bisunya malam? Malam yang kadang membuatku terjaga hanya untuk berpindah tidur ke sisimu lalu menangis di bahumu. Cuma dengan cara itu aku mampu merasa tenang…

Bunda, lihatlah, bukankah malam bisa melakukan apa saja padaku? Apakah ia juga akan mengambil Bunda dari sisiku? Saat malam dan merebah di sampingmu aku kadang terjaga hanya untuk memperhatikan rautmu, nafasmu, lalu kembali terlelap di sampingmu, mengharap aku masih menemuimu esok hari. Aku takut jika suatu saat nanti aku benar-benar akan menghadapi malam-malamku sendirian… tanpa ada bahu Bunda untukku merapat hangat…

Bunda, esok sebelum malam kembali datang, maukah Bunda ceritakan padaku apa yang akan diperbuat malam ini padaku?

 
1 Comment

Posted by on September 22, 2013 in Uncategorized

 

Catatan Seorang Secret Admirer

Kenang abadi tentang kampus adalah 2 sosok ajaibnya yang tak lekang dimakan zaman : Endah dan Rojer.

Endah, hm, tadi bertemu di jalan, dengan gamis dan kerudung biru, ku klaksonin n ku dadah-dadahin. Dan Endah membalas ramah “eii” sambil melambai tangan. Hihii…
Kangen. Kangen sapaannya “Umi. Eh Umi. salim dulu Umi. Umi kapan lulus? Umi. He Umi”. Maksaaa banget manggilnya.
Endah selalu sesuatu. Baik hati ke para ikhwan, ngajak ngobrol, ngasih buah, maniiiss banget. Tapi galak pol ke para akhwat. Sepertinya hanya para akhwat yang lembut hatinya yang mampu menakhlukkan Endah. Salah seorang sahabat saya berhasil melakukannya. Saya? Waduh. Saya sudah menghindar jauh-jauh ketika dia ingin salaman cipika-cipiki. Meski sering gagal :D. Endahnya gigih sih. Mekso. Meski kabarnya dia pernah ngludahin orang, meski kabarnya sering nyubitin akhwat-akhwat yang dia anggap tepe-tepe ke area ikhwan, meski dia jarang mandi, meski dan meski yang lain, tetap saja Endah itu…incredible.

Endah itu berjilbab lho. Bergamis selalu. Hebat kan. Kamu? Masa kalah siiii…

endah

ini gambar dari sini. Sukakkk bangett sama foto ini.

Endah itu keren. Selalu mengingatkan para akhwat untuk menjaga diri. Jauh-jauh dari area ikhwan. Apalagi sampe ngobrol. Pasti dikata-katain semena-mena. 1 orang yang ditakuti Endah itu Kakek 8. Kabarnya gara-gara pernah disiram sama si Kakek karena ngeludahin akhwat yang lagi ada urusan di marboth. Hihii… sad*s juga.
Endah itu suka menolong. Salah seorang teman dibantu ketika sedang kerepotan membelikan ini itu pesanan saya waktu sedang terkapar beberapa waktu lalu. Endah ikut berjasa! Belum berterimakasih, bedewe.
Endah itu… bunga kampus. Yang ditakuti sama adik-adik angkatan baru. Gara-gara selalu neriakin akhwat-akhwat di alhur. Endah tu gak suka ada akhwat pake jilbab item. Kenapa coba?? Gak tau.
Endah itu… selalu menarik untuk ditulis. Menarik untuk dikenang. Menarik untuk jadi pelajaran.
Semoga Allah merahmatinya.

And the second is Rojer. Rojer itu luarrr biasssa. Jalannya cepet. Suaranya kenceng. Tak pernah terlihat tidak bersemangat. Teman sehari-harinya adalah kotak kecil berisi permen, tisu, xon-C, dan HP buat jualan pulsa. Sering menemukannya berteriak-teriak di seantero kampus. “Pulsa pulsa…permen… tisu…macan (manis cantik) beli pulsa doonk…” atau “xonsi xonsi… lebih baik mencegah daripada mengobati, penyesalan datangnya terakhir kali,”. Dengan langkah cepat dan lebar ia menyusuri kampus, dari berlin-faperta-rektorat-fkh. Pernah kehilangan jejaknya ketika sedang butuh banget pulsa buat nelpon dosen. Ah ini orang. Bersemangat sekaliii… ketika searching di gugel, ternyata beberapa orang memiliki kenangan manis bersamanya. Pasti lebih banyak lagi sebenarnya, cuma ga ditulis aja. Orang ini… serius (meski pembawaannya kelihatan santai), pembelajar, sangat bersemangat. Suka sama Rojer. Suka memperhatikan gayanya yang spontan dan apa adanya. Suka semangatnya yang nular itu. Suka.

#introspeksi.
#belajar lagi, terus, selamanya.

SEMANGATTT!!!

 
3 Comments

Posted by on September 19, 2013 in Uncategorized

 

160913

Huruf-huruf menghilang.
Kata tercekat di kerongkongan.
Kalimat-kalimat menguap begitu saja.
Pohon-pohon mengangguk takzim.
Angin melembut, pelan mengiringi tapak.
Setiap butir debu berkhidmat dalam hamdalah.

Selamat Menempuh Hidup Baru, Aini.

#edisisuperlebay. -.-
Gapapa. Sekali seumur hidup. 😀

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2013 in Uncategorized

 

Enter title here.

Nulis itu butuh ketulusan. Hate men maennya. Appa? Hateee….
Werrr.
Ini otak kenapa jadi eror begini?
Saya sering tidak mengerti perasaan (?) para peraih nobel. Atau apa deh yang lain, Peraih grammy award, miss-miss-an, peraih medali emas, atau juara balap karung eRTe sekalipun. Mereka seneng gak sih? dan apa yang membuat mereka seneng?
Hadiah-nya?
Kepuasan berkarya-nya?
Standing applause-nya?
Pengakuan seantero dunia-nya?
atau…
manfaat-nya?

Khoirukum ‘anfa’uhum linnaas. Widih. Simpel benged rumusnya. Abis itu?
Belajar hidup lebih tulus. Yuk mari.

Ketika, selalu saja, setiap langkah adalah teguran, pengingatan, dan penguat.
Mari merapat.
🙂

 
Leave a comment

Posted by on September 3, 2013 in Uncategorized