RSS

Beringin Kita

16 Jul

Pagi ini aku menunggumu di bangku kita, bangku taman kota di perempatan jalan itu. Tidak ada yang spesial sebenarnya. Aku datang karena kau memintaku datang. Seperti biasa saat kau butuh barang sejam-dua untuk memburai sekarung ceritamu.

Aku datang lebih awal. Mendengarkan cerita beringin besar yang meneduhi tempatku duduk. Beringin bilang ia tengah merindu teman-temannya yang bisa berkumpul di kebun kota seberang. Rinduu sekali. Aku kasihan melihatnya. Aku bilang padanya dia adalah beringin yang hebat dan kuat, yang berjuang sendirian di taman kota yang kecil ini, menaungi orang-orang yang datang, memberikan kesejukan, dia tak boleh bersedih seperti ini…

Tak lama burung-burung kutilang pun datang menghiburnya. Berjanji akan menyampaikan salam pada teman-temannya di seberang. Tapi burung-burung itu minta upah. Dan terjadilah tawar-menawar harga dengan si beringin. Lima salam untuk satu anak burung boleh bersarang. Sepuluh salam, kata beringin. Si burung tetap ngeyel, lima atau kami akan cari pohon lain. Baiklah, deal, kata beringin. Aku tersenyum puas dengan kesepakatan itu. Dan berangkatlah burung-burung kutilang ke kebun kota seberang.

Dari jauh kau berjalan pelan, tersenyum tipis dengan “seragam” biru kotak-kotak kesukaanmu. Kau sebut “seragam” karena hampir setiap kali kita bertemu pasti kau kenakan gamis itu. Tapi tunggu… semakin kau mendekat, aku semakin memastikan sesuatu. Sesuatu yang membuatku berkerut kening. Dan benar saja. Kamu hari ini berbeda. Bahkan sejak kata pertama kau mulai menyapaku.

Hari ini hari apa? tanyaku memotong ceritamu.

Tidak hari apa-apa, katamu.

Lalu?

Lalu apa?

Aku cuma diam. Entah kenapa aku cuma diam. Tak butuh kacamata kuda untuk tahu, kau berbeda hari ini. Bukan gamismu, bukan cara berjilbabmu, bukan sepatu barumu. Tapi…semuanya. Semua bahasa tubuhmu. Ah tidakkah aku telah cukup mengenalmu? Firasatku hampir tak pernah meleset. Baiklah. Aku akan menunggumu saja. Menunggu kau siap menceritakan apapun itu.

Dan ya. Akhirnya kau bercerita. Kau memang sama sekali bukan orang yang mampu memendam sendiri, bukan.

Tapi kali ini, aku tak menyangka. Kau tengah tersandung. Tersandung sesuatu yang telah berusaha kau tinggalkan sejak kau berhijrah. Kau sedang dekat dengan seseorang, katamu.

Hm, dekat? Aku mengerut.

Iya, sampai aku memimpikannya tadi malam. Dia itu… mewujud seperti kristalisasi semangatku. Kau pernah merasakannya?

Hm, tidak. Itu… sesuatu yang aneh menurutku. Haha. Apa kau pernah menghubunginya atau dia menghubungimu?

Em, ya. Sering, akhir-akhir ini. Semula aku risih tapi kami memang nyambung kalo ngobrol. Nyambung banget malah. Aku sih sebenernya biasa aja, tapi…

Apa? aku penasaran.

Tapi dia,,, dia membawa kembali warna-warni hidupku yang akhir-akhir ini hambar.

Warna-warni? Hanya dengan meneleponmu?

Kami… kami pernah janjian…

Aku membuang nafas berat. Lalu?

Kau hanya diam. Meleleh. Menelungkupkan wajah ke meja taman.
Pepohonan taman ikut mengiringi lagu bisu kita. Bahkan kucing kecil yang (tiba-tiba?) ada di sampingku pun tak berani bersuara.

Apa kabar adik-adikmu?

Kau menggeleng.

Kenapa tidak kau titipkan mereka kepada orang lain saja??? Kataku sarkas.

Kau semakin terisak.

Lalu bagaimana…? Aku…aku sadar sebenarnya…Tapi aku tak bisa mengatakannya… katamu lirih.

Aku beritahu kau rahasia laki-laki. Mereka itu kaum berharga diri tinggi yang tidak pernah membiarkan dirinya inferior. Kataku sok tahu.
Jadi gunakan saja cara itu untuk menjauh. Aku tak punya kata-kata untuk seorang kamu. Tapi ingatlah, adik-adikmu butuh qudwah!

Kamu menatapku tajam. Lalu memelukku sambil berbisik “doakan aku…”. Sebentar kemudian kau beranjak pergi dalam diam..

Tak ada kabar darimu esok dan esok dan esoknya. Aku tenggelamkan diri dalam rabithah. Menyebut lirih namamu. Adakah kau di sana merasa? Allah, tsabbit quluubanaa ‘ala diinik wa ‘alaa tho’atik.

Aku pun tak menghubungimu. Sampai seminggu kemudian kau bilang ingin bertemu. Di taman kota seperti biasa. Aku sengaja datang lebih awal. Hendak berbagi cerita lagi dengan beringin besar. Apakah salam rindunya berbalas? Ahha! dia bilang iya. Mereka bilang akan berkirim surat daun lewat burung kutilang. Aku memberinya selamat, ikut berbahagia.

Dari jauh kau tergesa menujuku. Aku mengamatimu. Masih dengan gamis biru kotak-kotak dan kerudung birumu yang melambai-lambai saat kau lari. Datang-datang kau menggamit tanganku.

Ayo kita ke kebun kota di seberang. Kita sampaikan surat daun dari beringin untuk teman-temannya.. Ayo! Ayo!

Kau tersenyum ceria mengajakku berlari. Aku melongo. Beringin juga cerita padamu? Ah dasar.

Eh sebentar,
hm.. Kau berbeda, hari ini. 🙂

Untukmu.
Karena keberkahan itu mahal, Kawan.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on July 16, 2013 in Cerita Kata

 

2 responses to “Beringin Kita

  1. novaliantika

    July 16, 2013 at 4:53 PM

    eye.. bikin novel sanah.. 🙂

     
    • Eye

      July 16, 2013 at 10:35 PM

      😀
      sudah pernah mbak.
      pas SD.
      dan membangkai, hehe…

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: