RSS

Monthly Archives: July 2013

rintik

Dan malam, dan hujan.
Ya Allah semoga Kau turunkan keberkahan bersama hujannya.
Mengantarku menjemput takdir terbaik-Mu.
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari berlarian di bawah hujan.
Meski sayapku basah,tak apa.
Masih ada lilin kecil yang menanti untuk menghangatkannya.
Biar ia menungguku barang sebentar lagi.
Ia masih setia, meski sedikit pedih.
Aku tak tahu itu jenis keluarbiasaan macam apa.
Cuma bisa menetes dan membisik permohonan terbaik.
Maafkan bila membuatmu menunggu.
Aku akan pastikan, tidak setelah ini.Tidak.

 
Leave a comment

Posted by on July 30, 2013 in Lookinside

 

Tags:

NO!

Last night bukber,
he
Mr AK

told us about this.

And the lesson…
#Bahwa bersabar itu lebih baik.
#Bahwa pembiasaan akan lebih mudah jika dimulai sedini mungkin.
#Bahwa pembiasaan itu butuh qudwah. Hasil cetakan adalah bagaimana pencetak.
#Bahwa segala bentuk perbuatan baik akan ada rintangannya. Sunnatullah. Maka di suatu titik akan kita sadari bahwa urusan kita hanya antara kita dan Allah.

Semoga bisa menjadi atau mencetak Ahmad Kalla-Ahmad Kalla berikutnya.
Yang ikhlas.
Yang sabar.
Yang berjihad dengan hartanya.
Yang always Allah oriented.

 
Leave a comment

Posted by on July 27, 2013 in Cerita Kata

 

Tags:

o.f !

Jadi muslimah harus kuat. Jangan sampai melangkah ngaji terasa berat, tapi ke konser korea begitu semangat!
Jadi muslimah harus kuat. Jangan kayak dagangan terbuka yang dikerubung lalat, setiap cowok bisa mendekat!
Jadi muslimah harus kuat. Bukan kuat begadang nonton film barat, tapi kalo tilawah cuma seayat!
Jadi muslimah harus kuat. Bukan yang tampil seksi dengan pakaian ketat. Ingat! Tuhanmu nyuruhnya nutup seluruh aurat!
Jadi muslimah harus kuat. Jangan cuma pinter ngafalin quote para pemikir sesat, tapi hafalan qur’an gampang minggat!
Jadi muslimah harus kuat. Bukan yang betah ngerumpi di telpon sampai pulsa sekarat, tapi gak bisa ngikutin panjangnya bacaan imam ketika sholat!
Jadi muslimah harus kuat. Bukan yang kalau mau piknik persiapannya berpuluh koper berat, tapi gak pernah mikirin bekal ke akhirat!
Jadi muslimah harus kuat. Bukan kuat maksiat sampai hati berkarat, tapi yang sanggup istiqomah dalam segala taat!
Berat.Ya. Beratnya manis. Manisnya berat. Akan terbayar oleh sejuknya telaga kautsar, begitu janjiNya.

Allah…..

 
Leave a comment

Posted by on July 21, 2013 in Lookinside, XX

 

Beringin Kita

Pagi ini aku menunggumu di bangku kita, bangku taman kota di perempatan jalan itu. Tidak ada yang spesial sebenarnya. Aku datang karena kau memintaku datang. Seperti biasa saat kau butuh barang sejam-dua untuk memburai sekarung ceritamu.

Aku datang lebih awal. Mendengarkan cerita beringin besar yang meneduhi tempatku duduk. Beringin bilang ia tengah merindu teman-temannya yang bisa berkumpul di kebun kota seberang. Rinduu sekali. Aku kasihan melihatnya. Aku bilang padanya dia adalah beringin yang hebat dan kuat, yang berjuang sendirian di taman kota yang kecil ini, menaungi orang-orang yang datang, memberikan kesejukan, dia tak boleh bersedih seperti ini…

Tak lama burung-burung kutilang pun datang menghiburnya. Berjanji akan menyampaikan salam pada teman-temannya di seberang. Tapi burung-burung itu minta upah. Dan terjadilah tawar-menawar harga dengan si beringin. Lima salam untuk satu anak burung boleh bersarang. Sepuluh salam, kata beringin. Si burung tetap ngeyel, lima atau kami akan cari pohon lain. Baiklah, deal, kata beringin. Aku tersenyum puas dengan kesepakatan itu. Dan berangkatlah burung-burung kutilang ke kebun kota seberang.

Dari jauh kau berjalan pelan, tersenyum tipis dengan “seragam” biru kotak-kotak kesukaanmu. Kau sebut “seragam” karena hampir setiap kali kita bertemu pasti kau kenakan gamis itu. Tapi tunggu… semakin kau mendekat, aku semakin memastikan sesuatu. Sesuatu yang membuatku berkerut kening. Dan benar saja. Kamu hari ini berbeda. Bahkan sejak kata pertama kau mulai menyapaku.

Hari ini hari apa? tanyaku memotong ceritamu.

Tidak hari apa-apa, katamu.

Lalu?

Lalu apa?

Aku cuma diam. Entah kenapa aku cuma diam. Tak butuh kacamata kuda untuk tahu, kau berbeda hari ini. Bukan gamismu, bukan cara berjilbabmu, bukan sepatu barumu. Tapi…semuanya. Semua bahasa tubuhmu. Ah tidakkah aku telah cukup mengenalmu? Firasatku hampir tak pernah meleset. Baiklah. Aku akan menunggumu saja. Menunggu kau siap menceritakan apapun itu.

Dan ya. Akhirnya kau bercerita. Kau memang sama sekali bukan orang yang mampu memendam sendiri, bukan.

Tapi kali ini, aku tak menyangka. Kau tengah tersandung. Tersandung sesuatu yang telah berusaha kau tinggalkan sejak kau berhijrah. Kau sedang dekat dengan seseorang, katamu.

Hm, dekat? Aku mengerut.

Iya, sampai aku memimpikannya tadi malam. Dia itu… mewujud seperti kristalisasi semangatku. Kau pernah merasakannya?

Hm, tidak. Itu… sesuatu yang aneh menurutku. Haha. Apa kau pernah menghubunginya atau dia menghubungimu?

Em, ya. Sering, akhir-akhir ini. Semula aku risih tapi kami memang nyambung kalo ngobrol. Nyambung banget malah. Aku sih sebenernya biasa aja, tapi…

Apa? aku penasaran.

Tapi dia,,, dia membawa kembali warna-warni hidupku yang akhir-akhir ini hambar.

Warna-warni? Hanya dengan meneleponmu?

Kami… kami pernah janjian…

Aku membuang nafas berat. Lalu?

Kau hanya diam. Meleleh. Menelungkupkan wajah ke meja taman.
Pepohonan taman ikut mengiringi lagu bisu kita. Bahkan kucing kecil yang (tiba-tiba?) ada di sampingku pun tak berani bersuara.

Apa kabar adik-adikmu?

Kau menggeleng.

Kenapa tidak kau titipkan mereka kepada orang lain saja??? Kataku sarkas.

Kau semakin terisak.

Lalu bagaimana…? Aku…aku sadar sebenarnya…Tapi aku tak bisa mengatakannya… katamu lirih.

Aku beritahu kau rahasia laki-laki. Mereka itu kaum berharga diri tinggi yang tidak pernah membiarkan dirinya inferior. Kataku sok tahu.
Jadi gunakan saja cara itu untuk menjauh. Aku tak punya kata-kata untuk seorang kamu. Tapi ingatlah, adik-adikmu butuh qudwah!

Kamu menatapku tajam. Lalu memelukku sambil berbisik “doakan aku…”. Sebentar kemudian kau beranjak pergi dalam diam..

Tak ada kabar darimu esok dan esok dan esoknya. Aku tenggelamkan diri dalam rabithah. Menyebut lirih namamu. Adakah kau di sana merasa? Allah, tsabbit quluubanaa ‘ala diinik wa ‘alaa tho’atik.

Aku pun tak menghubungimu. Sampai seminggu kemudian kau bilang ingin bertemu. Di taman kota seperti biasa. Aku sengaja datang lebih awal. Hendak berbagi cerita lagi dengan beringin besar. Apakah salam rindunya berbalas? Ahha! dia bilang iya. Mereka bilang akan berkirim surat daun lewat burung kutilang. Aku memberinya selamat, ikut berbahagia.

Dari jauh kau tergesa menujuku. Aku mengamatimu. Masih dengan gamis biru kotak-kotak dan kerudung birumu yang melambai-lambai saat kau lari. Datang-datang kau menggamit tanganku.

Ayo kita ke kebun kota di seberang. Kita sampaikan surat daun dari beringin untuk teman-temannya.. Ayo! Ayo!

Kau tersenyum ceria mengajakku berlari. Aku melongo. Beringin juga cerita padamu? Ah dasar.

Eh sebentar,
hm.. Kau berbeda, hari ini. 🙂

Untukmu.
Karena keberkahan itu mahal, Kawan.

 
2 Comments

Posted by on July 16, 2013 in Cerita Kata

 

T

Tasigna namanya. Beberapa minggu terakhir dia bertengger di kamar kami. Kalau kugambarkan ia sosok glamour dengan harga jutaan dan bungkus “wah”. “Wah” untuk seorang saya yang sangat anti obat kimia kalo gak lagi kena tifus. Kalo biasanya kita dapet obat dari bu bidan dengan bungkus plastik reseal warna biru, maka yang ini lain. Bungkusnya kotak kertas berlapis, elegant sekali. Ada detil panduan cara konsumsi di dalamnya yang iseng pernah saya baca. Harus puasa 2 jam sebelum meminumnya. Lalu minum obat itu dengan air, baca: dengan air, gak boleh pake pisang, hmm. Lalu puasa sejam. 2 tablet sekali minum. 2 kali sehari. Seumur hidup. Seumur hidup atau dialihkan ke obat yang lebih tinggi dosisnya. Agar leukositnya tak melonjak jumlahnya.

Ia pernah bercerita tentang seorang temannya yang menyerah. Menyerah tak mau meminum obat dan memilih menunggu waktu. Sedangkan ia memilih mengurus segala macam surat kesana kemari, kadang harus menunggu seharian, menghadapi wajah-wajah yang kadang tak bersahabat,, semua itu untuk bisa mendapatkan tasignanya. Dan ia jalani seluruh hidupnya penuh semangat. Semangatnya begitu hidup. Luar biasa. Sekali lagi, hidup memang pilihan.

Sosok wonderwoman itu dan tasigna-nya, mengingatkan untuk selalu berhamdalah. Alhamdulillah atas jumlah sel darah yang normal. Alhamdulillah atas sistem organ yang normal. Mudah bukan bagi Allah untuk menguji hamba-Nya, membuat satu saja dari komponen tubuh tak normal. Entah leukositnya, entah sumsumnya, entah sel otaknya, atau tulangnya, atau lambungnya, atau ususnya, atau kelenjarnya,, Lalu mengimbas ke semuanya. Maka segala kenormalan ini adalah bentuk nyata kasih sayang Allah. Sangat nyata. Mari bersyukur…
🙂

 
Leave a comment

Posted by on July 14, 2013 in Uncategorized

 
Aside

# Sebuah luka abadi yang tidak ingin kita goreskan di hati anak-anak kita nanti : divorce.
Mbak Asma.

# Karena misteri tentang SIAPA yang akan menggenapi kita selesai ketika ijab qabul terucap. Tapi misteri tentang BAGAIMANA kita melewati kehidupan bersamanya adalah PR sepanjang hidup yang harus lebih disiapkan.
Kak Nazrul.

# Anak-anak, sebagaimanapun bengalnya mereka, jika sebelumnya terbekali dengan baik dari rumah, di suatu titik mereka akan kembali baik.
Lendonovo.

# Jika mendapati orangtua kita hingga usia lanjut, sungguh mengurus mereka tak seberapa dibanding dulu mereka mengurus kita, hingga seperti sekarang.

# Perasaan seorang orangtua mungkin tak dapat dipahami oleh yang belum menjadi orangtua. Betapa mereka menginginkan segala yang terbaik untuk anak-anaknya. Segalanya.
Pak Guru.

# Jadilah qudwah. Maka kata-katamu akan menjadi tuah. Karena anak-anak adalah pembelajar terbaik terhadap apapun yang mereka indera.

# Selamat mempersiapkan kematian. Yang jauh lebih pasti datangnya dibandingkan menjadi orang tua.

-hanyabeberapacatatan-

CatatanSiang

 
Leave a comment

Posted by on July 11, 2013 in Uncategorized

 

7:96

Apakah hukum jahiliyah yang kalian cari…
Hukum siapa yang lebih baik dari hukum Allah…

 
Leave a comment

Posted by on July 5, 2013 in Uncategorized