RSS

judul sedang dipinjam,

30 May

Monyeti tertawa, lalu tertawa lalu tertawa.
Sedetik lalu ia masih berurai air mata padahal.
Nyatanya setangkai pisang saja mampu mengusir segala laranya.
Monyeti menyambar pepisang itu dengan segera, mencium-ciumnya sambil bernyanyi “smell banana” dan bergoyang pica-pica.
Monyeti sadar bahwa bahagia itu sederhana sebenarnya.
Sesederhana pisang.
Sesederhana menatap gemintang di langit biru.
Sesederhana bertemu dengan Monyeta dan Monyetun.
Ah mana pula dia tahu manusia di sekelilingya itu makhluk penuh ego dengan otak dan hati yang jarang dimandikan.
Dia cuma bingung saja melihat lalu lalang orang-orang tanpa alas kaki mencari penghidupan. Bericrik-icrik bunyi kerikil dalam botol menemani dendangnya “aku yang dulu bukan ku yang sekarang…”.
Sementara di belakang persis berderet mersi, kemri, beemwe, dengan sebiji penumpangnya tengah membuka jendela, klepus klepus menghembus asap rokok dengan muka tanpa dosa.
Apalah ini namanya dunia,
Monyeti menggeleng tak mengerti juga.
Karena memang wajar saja, Monyeti hanya seekor monyet biasa.
Yang tengah berbahagia dengan pepisang yang serasa tak ada habis-habisnya.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: