RSS

Angel is Enjel, Angel ki angel.

11 May

Menjadi orang tua adalah menjadi teladan. Amanah yang hebat bukan? Kesadaran bahwa kita memiliki obyek didikan yang harus diawasi, diarahkan, diberi contoh sepanjang 24/7, harusnya mampu meminimalisir keinginan-keinginan untuk berbuat yang tidak-tidak.

Tak dipungkiri kadang kita malas bukan buatan. Target-target yang sudah menjelang di depan mata pun tak kelihatan. Ah, benarkah kita sedang mengajari anak-anak kita menjadi pejuang? Pejuang kesiangan?

Tak dipungkiri banyak yang suka acara lawakan, tapi jikalau mengingat peringatan Rasul tentang itu… apakah kita sedang mengajari anak-anak kita menentang larangan Rasulnya?

Tak dipungkiri kadang kita tak disiplin menjaga dan meningkatkan hafalan. Tapi di lubuk hati nun jauh di sana, lentera keinginan memiliki putra-putri hafidz-hafidzoh tak pernah padam. Tapi apakah nyalanya sanggup menghangatkan? Apalagi membakar semangat anak-anak kita untuk disiplin menghafal dan mempelajari al qur’an? Bukankah mereka terbentuk karena disiplin yang orang tuanya terapkan?

Tak dipungkiri kadang kita enggan menghabiskan makan. Meski seuprit nasi atau sepotong daun bawang pun kadang disisakan. Tapi ketika mengingat qudwah Rasul yang sampai menjilati jari jemarinya ketika makan, apakah kita sedang membiarkan anak-anak kita menjadi orang-orang yang tidak pandai bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan?

Tak dipungkiri kadang males subuh jamaahan. Ketika mata masih ngantuk bukan buatan. Apalagi buat melangkah ke masjid di tengah rerintik hujan. Maka maklumi saja ketika anak-anak kita pun tak jauh beda berkelakuan.

Tak dipungkiri kita masih menyisakan lagu-lagu picisan di daftar setelan. Lalu ketika anak-anak kita ternyata diam-diam menyimpan lagu-lagu itu, menghafalnya, mendendangkannya, serta-merta marah bukan buatan. Sebenarnya, darimana ia mencontoh itu semua? Tak ada guna kata-kata kosong apalagi cacian.

Tak dipungkiri kadang debar-debar biru masih merajalela di sudut sana. Mendorong mata, tangan, kaki untuk mengeksekusinya. Dari sekadar menyapa, lalu berlanjut ke seterusnya. Tapi kemudian tak rela ketika putri kecil kita digandeng teman laki-laki sekelasnya. Atau tiba-tiba dijemput berbonceng motor untuk hura-hura. Dapat dari siapakah contoh itu kiranya?

Ya. Kita tak akan pernah menjadi sempurna. Tapi setidaknya, hal-hal yang sudah kita tahu mudhorotnya, hal-hal yang tak boleh kita melakukannya, semakin diminimalisir keberadaannya. Dan hal-hal yang kita targetkan menjadikan lebih berdisiplin menjalankannya. Setidaknya dengan mengingat bahwa kita adalah orang tua, qudwah, cetakan. Agar harapan-harapan kita tentang anak-anak kita, tak jauh panggang dari apinya.

Pun ketika segalanya telah terikhtiarkan, dan hasilnya tak sesuai harapan… semoga Allah membalas segala mujahadah yang dilakukan, karena tak ada maksud melalai amanah yang diberikan… maka mari memulai, wahai calon orang tua…

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

————————————————————————————————————————–

X : Ha njuk? Dadi Si Enjel dadi wong tuwo Nie? Anake lanang po wedok?
Y : Dudu. Kesimpulane dudu kuwi,
X : lha njuk opo?
Y : Angel dadi wong tuwo ki.
X : Enjel?
Y : Angel. Angel. Dudu Enjel.
X : oo, yowes rasah urip wae Nie
Y : lha kok njuk ngono?
X : ha lha iyo, uakeh sing pengin dadi wong tuwo ra biso-biso, temandang kowe sing dadi wong tuwo ra nganggo susah, malah ra syukur, sambat mrena mrene, lha karepmu prewe jan jane.
Y : yowes menengo to. tak mikir sik aku.
X : rasah kakehan mikir. eksyen Nie, eksyen…
Y : hmph. #$$&(#@

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on May 11, 2013 in Uncategorized

 

3 responses to “Angel is Enjel, Angel ki angel.

  1. novaliantika

    May 11, 2013 at 10:16 PM

    tolong itu percakapan bawahnya ditranslet dulu, eye 😉

     
    • Eye

      May 12, 2013 at 11:08 AM

      Heh he… jasa translet mahal lho mbak e…tapi ni dikasih deh buat mbakku cinta 😀

      X : Ha njuk? Dadi Si Enjel dadi wong tuwo Nie? Anake lanang po wedok?
      (Lha trus? Jadi Si Enjel udah jadi orang tua Nie? Anaknya cowok apa cewek?)
      Y : Dudu. Kesimpulane dudu kuwi,
      (bukan. kesimpulannya bukan itu)
      X : lha njuk opo?
      (lha trus apa?)
      Y : Angel dadi wong tuwo ki.
      (Susah jadi orang tua tuh)
      X : Enjel?
      (Enjel?)
      Y : Angel. Angel. Dudu Enjel.
      (Susah. Susah. Bukan Enjel.)
      X : oo, yowes rasah urip wae Nie
      (Oo, yaudah, ga usah hidup aja Nie)
      Y : lha kok njuk ngono?
      (Lha kok jadi gitu?)
      X : ha lha iyo, uakeh sing pengin dadi wong tuwo ra biso-biso, temandang kowe sing dadi wong tuwo ra nganggo susah, malah ra syukur, sambat mrena mrene, lha karepmu prewe jan jane.
      (Ha lha iya, buanyak orang yang pengen jadi orang tua gak bisa-bisa, nah kamu yang bisa jadi orang tua tanpa susah-susah, malah gak bersyukur, mengeluh di sana sini, lha maumu tuh gimana coba)
      Y : yowes menengo to. tak mikir sik aku.
      (yaudah, diem dulu. aku mikir dulu)
      X : rasah kakehan mikir. eksyen Nie, eksyen…
      (ga usah banyak mikir… eksyen Nie, eksyen…)
      Y : hmph. #$$&(#@

       
      • novaliantika

        May 12, 2013 at 11:51 AM

        hlaaahh.. ditranslet beneran sama dia.. 😀

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: