RSS

Monthly Archives: May 2013

judul sedang dipinjam,

Monyeti tertawa, lalu tertawa lalu tertawa.
Sedetik lalu ia masih berurai air mata padahal.
Nyatanya setangkai pisang saja mampu mengusir segala laranya.
Monyeti menyambar pepisang itu dengan segera, mencium-ciumnya sambil bernyanyi “smell banana” dan bergoyang pica-pica.
Monyeti sadar bahwa bahagia itu sederhana sebenarnya.
Sesederhana pisang.
Sesederhana menatap gemintang di langit biru.
Sesederhana bertemu dengan Monyeta dan Monyetun.
Ah mana pula dia tahu manusia di sekelilingya itu makhluk penuh ego dengan otak dan hati yang jarang dimandikan.
Dia cuma bingung saja melihat lalu lalang orang-orang tanpa alas kaki mencari penghidupan. Bericrik-icrik bunyi kerikil dalam botol menemani dendangnya “aku yang dulu bukan ku yang sekarang…”.
Sementara di belakang persis berderet mersi, kemri, beemwe, dengan sebiji penumpangnya tengah membuka jendela, klepus klepus menghembus asap rokok dengan muka tanpa dosa.
Apalah ini namanya dunia,
Monyeti menggeleng tak mengerti juga.
Karena memang wajar saja, Monyeti hanya seekor monyet biasa.
Yang tengah berbahagia dengan pepisang yang serasa tak ada habis-habisnya.

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2013 in Uncategorized

 

mars.venus

Jika engkau laki-laki maka pantaskan dirimu sehingga seandainya boleh manusia menyembah manusia, maka kaulah yang akan disembah oleh istrimu.

Jika engkau perempuan maka layakkan dirimu untuk menjadi 3 nama pertama tujuan bakti anak-anakmu, sebelum nama bapak mereka.

 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2013 in Uncategorized

 
Aside

Hilang.

Kehilangan.

Dihilangkan.

Menghilangkan.

Hilang.

Sesuatu yang tak dimiliki pasti tak bisa hilang.

Jika tak merasa memiliki pasti tak merasa kehilangan.

Jadi kembalilah ke rasa. Rasa-rasa itu yang harus dihilangkan.

Sehingga mampu menghilangkan kehilangan.

Hingga tak lagi ada yang hilang.

Innalillah. Segala, segala, segala, milik Allah.

…kembali…

 
Leave a comment

Posted by on May 17, 2013 in Uncategorized

 

Angel is Enjel, Angel ki angel.

Menjadi orang tua adalah menjadi teladan. Amanah yang hebat bukan? Kesadaran bahwa kita memiliki obyek didikan yang harus diawasi, diarahkan, diberi contoh sepanjang 24/7, harusnya mampu meminimalisir keinginan-keinginan untuk berbuat yang tidak-tidak.

Tak dipungkiri kadang kita malas bukan buatan. Target-target yang sudah menjelang di depan mata pun tak kelihatan. Ah, benarkah kita sedang mengajari anak-anak kita menjadi pejuang? Pejuang kesiangan?

Tak dipungkiri banyak yang suka acara lawakan, tapi jikalau mengingat peringatan Rasul tentang itu… apakah kita sedang mengajari anak-anak kita menentang larangan Rasulnya?

Tak dipungkiri kadang kita tak disiplin menjaga dan meningkatkan hafalan. Tapi di lubuk hati nun jauh di sana, lentera keinginan memiliki putra-putri hafidz-hafidzoh tak pernah padam. Tapi apakah nyalanya sanggup menghangatkan? Apalagi membakar semangat anak-anak kita untuk disiplin menghafal dan mempelajari al qur’an? Bukankah mereka terbentuk karena disiplin yang orang tuanya terapkan?

Tak dipungkiri kadang kita enggan menghabiskan makan. Meski seuprit nasi atau sepotong daun bawang pun kadang disisakan. Tapi ketika mengingat qudwah Rasul yang sampai menjilati jari jemarinya ketika makan, apakah kita sedang membiarkan anak-anak kita menjadi orang-orang yang tidak pandai bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan?

Tak dipungkiri kadang males subuh jamaahan. Ketika mata masih ngantuk bukan buatan. Apalagi buat melangkah ke masjid di tengah rerintik hujan. Maka maklumi saja ketika anak-anak kita pun tak jauh beda berkelakuan.

Tak dipungkiri kita masih menyisakan lagu-lagu picisan di daftar setelan. Lalu ketika anak-anak kita ternyata diam-diam menyimpan lagu-lagu itu, menghafalnya, mendendangkannya, serta-merta marah bukan buatan. Sebenarnya, darimana ia mencontoh itu semua? Tak ada guna kata-kata kosong apalagi cacian.

Tak dipungkiri kadang debar-debar biru masih merajalela di sudut sana. Mendorong mata, tangan, kaki untuk mengeksekusinya. Dari sekadar menyapa, lalu berlanjut ke seterusnya. Tapi kemudian tak rela ketika putri kecil kita digandeng teman laki-laki sekelasnya. Atau tiba-tiba dijemput berbonceng motor untuk hura-hura. Dapat dari siapakah contoh itu kiranya?

Ya. Kita tak akan pernah menjadi sempurna. Tapi setidaknya, hal-hal yang sudah kita tahu mudhorotnya, hal-hal yang tak boleh kita melakukannya, semakin diminimalisir keberadaannya. Dan hal-hal yang kita targetkan menjadikan lebih berdisiplin menjalankannya. Setidaknya dengan mengingat bahwa kita adalah orang tua, qudwah, cetakan. Agar harapan-harapan kita tentang anak-anak kita, tak jauh panggang dari apinya.

Pun ketika segalanya telah terikhtiarkan, dan hasilnya tak sesuai harapan… semoga Allah membalas segala mujahadah yang dilakukan, karena tak ada maksud melalai amanah yang diberikan… maka mari memulai, wahai calon orang tua…

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

————————————————————————————————————————–

X : Ha njuk? Dadi Si Enjel dadi wong tuwo Nie? Anake lanang po wedok?
Y : Dudu. Kesimpulane dudu kuwi,
X : lha njuk opo?
Y : Angel dadi wong tuwo ki.
X : Enjel?
Y : Angel. Angel. Dudu Enjel.
X : oo, yowes rasah urip wae Nie
Y : lha kok njuk ngono?
X : ha lha iyo, uakeh sing pengin dadi wong tuwo ra biso-biso, temandang kowe sing dadi wong tuwo ra nganggo susah, malah ra syukur, sambat mrena mrene, lha karepmu prewe jan jane.
Y : yowes menengo to. tak mikir sik aku.
X : rasah kakehan mikir. eksyen Nie, eksyen…
Y : hmph. #$$&(#@

 
3 Comments

Posted by on May 11, 2013 in Uncategorized

 
Aside

Memang orang2 yang memutuskan hidup bersama harus selalu saling cocok?
Terlalu banyak hal untuk dicocok2kan satu sama lain. Dan kita tidak ingin menghabiskan hidup hanya untuk itu, bukan…
Kita hanya butuh saling mengerti dan menerima…
(noted from dioramanya Kak Nazrul, 2013).

Not only for urusan “genap-menggenap” ternyata, notes ini aplikatif untuk siapapun yang saat ini sedang seatap dengan siapapun.
Menerima, dan mengerti.

Apalagi perempuan, yang lebih susah berdamai dengan perasaan.
Ah bukankah perasaan itu hanya sejenis clay yang bisa di-form and reform?

^^

Clay

 
2 Comments

Posted by on May 10, 2013 in Uncategorized

 

Menuju

Blog Keren ^^

http://darwishndarwisya.blogspot.com/

 
Leave a comment

Posted by on May 3, 2013 in Uncategorized

 

358

Ini kisah nyata. Percaya? Hahay, Anda tidak berdosa jika Anda percaya. Tapi saya berdosa kalau saya berbohong. Astaghfirullah, baiklah. Ini kisah gado2 sebenarnya.

Seandainya Anda bertanya apa pendapat saya tentang apa itu Cinta, Kerja, dan Harmoni, maka akan saya ceritakan sekarang. Tapi sebenernya Anda tidak pernah bertanya bukan, ini cuma akal-akalan saya saja agar saya dapat bercerita.

Saya dulu pernah kecil. Percaya? Yakin saja deh. Dulu, sekitar 20 tahun lalu, saya pertama kalinya bertemu mereka. Mereka bertiga tepatnya. Dimana? Sekolah, pagi hari sekitar jam 7-8. Sebentar sekali? Ngapain? Mereka bertiga adalah teman masa kecil saya, teman “pre-school” di sebuah sekolah bernama Sekolah “Titu” (Titu=TiTwo=T2 = Talon Terassi = Teras Rumah, 😛 -> sambil belajar Finnish).

Nah, saya cukup percaya bahwa sebenarnya saya LUPA bagaimana wajah mereka, apa warna kulitnya, bagaimana rambutnya, cara bicaranya, bahkan saya lupa apakah mereka laki-laki atau perempuan. Werrrr. Saya hanya tahu nama mereka adalah Fang, Fing, dan Fung. Dapet nama dari mana ya? Dari Ibu? Hahay, entah. Kata buku, kita hanya bisa mengingat memori masa kecil sejak usia 5 tahun. Nah, bagaimana saya bisa mengingat ketiga teman saya itu? Jawabannya bisa ditebak : Ibu. Ibu yang nyeritain pas saya udah gedhe 😀 . Kata Ibu, setiap pagi saya berkutat dengan pensil dan buku, lalu pergi ke sekolah Titwo, ada papan tulis hitam dan kapur juga sepertinya. Dan di sana saya ngoceh sendirian sampai capek (Notes : kata “sendirian” saya putuskan untuk dipakai saat menulis ini, karena saya mulai bisa menerima kenyataan tentang begitu ghoibnya trio F itu). Lalu ke dapur, cerita tentang Fang, Fing, Fung, tentang belajar apa saja hari itu, lalu minta makan.
-> paragraf ini berisi kisah nyata.

Sayangnya, begitu saya masuk TK lalu SD dan seterusnya, saya berpisah dengan trio F itu. Mereka menghilang begitu saja. Tanpa kabar. Bahkan fesbuk dan twitinya tak ada. Ah tapi apa sih yang tidak bisa ditemukan di belantara misterius bernama imajinasi? Saya menemukan mereka kembali beberapa waktu lalu, akhirnya. 🙂

Dimulai dari keisengan saya beberapa waktu lalu mencari nama Fing di gugel. “Fing”. Kayaknya entah dimanaa gitu, Andrea Hirata juga sedang mengetikkan nama “A Ling” dan mulai mencarinya keliling Eropa. Maka saya putuskan untuk mencarinya dari Eropa. -> bagian ini gak nyambung ya.

Skandinavia. Dan mimpi tadi malam mengilhami saya untuk menyandingkan nama “Fing” dengan nama “Finlandia” mirip bukan? Fing – Finland – Fing – Finland => FingLand, tanah tempat Fing berada. Yap! Dan kaki mulai terinspirasi untuk menuju kantor Tietolikenne buat minjem buku kuning. Akhirnya, ada beberapa nama Fing di sana. Ah, kenapa dulu pas di sekolah Titu aku ndak nanya siapa nama lengkap Fing… heh, mana kepikiran, memberi label “cewek” atau “cowok” aja ga sempet. Tapi tak apa. Jejaknya mulai terlihat dan ini pertanda baik.

Kutelepon satu-satu nama2 di buku kuning itu. Mahal brur, ini sambungan internasional. Ingat? Saya masih di Bogor. Hergh. Tapi tak apa. Tak apa Eye. Sekuat tenaga menghibur diri.

“Moi, voinko auttaa?“ suara ke sekian di seberang sana. Perempuan.

“Moi, hyvää huomenta,,puhutteko Englantia?”

“Kyllä. Who are you?”

“Eye, from Indonesia. Are you Fing? Fing Sumejodimejo? Fing this is me, Eye, Do you remember? Your childhood friend, Titu preschool,”

“Eye? Indonesia? Purworejo?”
Dan gw jingkrak-jingkrak sendiri di boks telepon. Fing-ku. Seorang perempuan, sodara2.

“Yessss. Fing? Oh My God Fing… do you still remember me?”

“Hey of course… my mom never stop asking me about you dear…”

“How lucky I am… but Fing, emm, sorry, I am so sorry because of my limited money I can’t continue this conversation. Plis give me your e-mail,”

“ok, contact me at fing.fing@fmail.fin.”

“okay,okay, wait for my message. Miss u sooo much dearest Fing.. Nakemiin”

“hahay, you can speak Finnish actually, Nakemiin…”

Dan tiba-tiba, bunga-bunga musim semi segala warna mekar di sekitarku. Kusempatkan nari muter-muter sebentar lalu menyentuh lembut bunga-bunga itu, sebelum awan kinton datang melesat cepat dari puncak gunung Salak, menjemputku pulang ke Bubulak.

Apa yang dikerjakan Fing di sana? Aku begitu penasaran. Finland. Ya, benar-benar Finland yang “itu”.
Dan hari-hari berikutnya kulewatkan tanpa pernah absen imel-imelan sama Fing. Segala tentang Finland diceritakannya. Foto-foto musim dingin di Helsinki yang begitu panjaang, bangunan-bangunannya, orang-orangnya, kunjungannya ke Lapland, dan satu yang terpenting, dia menceritakan pekerjaannya.

Pekerjaan Fing di sana adalah mendidik. Dia seorang guru. Dia menceritakan bagaimana Finland bisa menduduki peringkat pertama di dunia dalam hal pendidikan. Para guru-gurunya adalah lulusan-lulusan terbaik universitas. Perhatian ke anak didik begitu besar. Setiap anak istimewa dan dididik sesuai dengan potensinya masing-masing. Ah, begitu banyaaak pertanyaan yang masih tersimpan di benakku tentang Finland dan pendidikannya. Fing, kuharap dia tetap bersedia menjawab seberapapun banyaknya pertanyaanku. Dan apa katanya di email terakhirnya tadi pagi? She is waiting for me. Haha… aku bilang, ngapain ke sana? Agak-agak mustahil untuk orang sepertiku, dengan English yang payah apalagi Finnish yang cuma sepotong-sepotong. Tapi dia bilang bahwa dia juga tidak pernah menyangka bahwa keinginannya untuk menjelajah Skandinavia ternyata terwujud. Bermula dari cinta. Ke-cinta-annya pada anak-anak dan pendidikan, katanya. Cinta yang ia realisasikan dalam bentuknya yang konkret. Sangat konkret. Dapat kutelusuri dari ceritanya yang begitu rupa berjuang hingga bisa sampai ke Finland. Juga adaptasi yang luar biasa dengan kehidupan di sana. Ia berjuang. Ia berkarya.

Aku termenung membaca emailnya.

#to be continued…

(Ditulis dalam rangka berharap semoga di-aamiin-kan malaikat)

 
Leave a comment

Posted by on May 1, 2013 in Uncategorized