RSS

0,5+0,5

09 Oct

…Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…. 24:26.

Begitu janji-Nya. Yang menentramkan hati RasulNya yang kala itu sedang gundah oleh kabar tak sedap yang menerpa Bunda ‘Aisyah.

Lalu ada apa? Sudahkah semua selesai begitu saja ketika belahan jiwa satu bertemu dengan separuhnya? Seperti cerita dalam dongeng “they get married and life happily ever after”. Iyek banget yah? Meuni keren yang gini mah. Unfortunately kita tak pernah mencicip bagaimana itu hidup, main gundu, bahkan menikah di negeri dongeng. Karena dongeng hanya ada sebelum tidur. Dan kita belum mau tidur. Hrrrgh.

Menjadi “baik” itu adalah sebuah proses seumur hidup, yang tak hanya berhenti ketika “perempuan yang baik dipertemukan dengan laki-laki yang baik”. Ekspektasi yang terlalu tinggi, dan berujung pada kekecewaan, pada akhirnya bisa menjadi cikal kehancuran sebuah ikatan. Wuiih serem amat kehancuran  akhirnya menemukan jawaban, kenapa ada ikatan yang hanya bertahan seumur nyamuk. Ini kali ya.

Ke”baik”an itu pada akhirnya terletak pada bagaimana keduanya dapat tetap berproses menjadi semakin baik ketika telah bersama dan bukan saja berhenti pada stadium ke”baik”an pada saat keduanya “dipertemukan”.
Artinya, beban benar-benar bertambah dua kali lipat. Istilah setengah dien itu memang benar-benar serba setengah : berat dan tanggungannya baru setengah. Nah, segalanya menjadi genap-satu ketika “pertemuan” itu. Pun proses menjadi baik itu benar-benar dobel tanggung jawab. Itulah kenapa Allah ingetin pake At Tahrim : 6 untuk menjaga diri DAN keluarga dari api neraka.

Maka, yah, bagi yang belum menikah : berusahalah untuk terus menjadi baik. Sadarkan kembali diri bahwa dia yang akan datang nanti bukannya yang “selalu baik” di mata kita, karena kita merasa telah sebegitunya “berusaha menjadi baik untuk pantas mendapatkan dia”, sehingga kita layak menagih janji Allah di 24:26 itu. Dia yang kelak akan datang adalah sepaket utuh dirinya apa adanya.
Dan, yakin saja. There is always a happiness in every moment, even happiness in tears. Sehingga “happily ever after” itu tak hanya ada di negeri dongeng.

Pada akhirnya kembali saluuuut banget sama bapak-ibu gue yang berjaya hingga saat ini…Alhamdulillah.

——————————————————————————————————————————————————————————————————————–

Ini note nanaonan sih Eye?

Entah. Tiba-tiba saja.

Tiba-tiba apa?

Tiba-tiba hujan.

Setelah lepas maghrib tadi, mengantarmu di bawah gerimis. Dan dalam jabat tangan perpisahan itu aku dengan bodohnya berkata, “mungkin ini terakhir kali aku boncengin kamu…”. Ah. Sebenernya mah tidak terlalu begitu bukan. Belum tentu juga. Pun Bogor-Jogja masih dalam jangkauan, kiranya. Kita bisa bertemu lagi, kita bisa boncengan motor lagi. Bisa cerita-cerita lagi.

Hasssyaaahhh. Sudah, ya!
Barokallah for you. Plus selamat berpusing, my besties… 🙂

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on October 9, 2012 in Cerita Kata, Lookinside

 

Tags:

One response to “0,5+0,5

  1. novaliantika

    October 9, 2012 at 12:41 PM

    makasih tausiyahnya ai, satu poin yang hampir terlupa..
    love you honey.. 😉

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: