RSS

Monthly Archives: October 2012

backspace

!

)

@

(

#

*

$

&

%

^

 

apakah SaudaraPembaca tahu apa arti tanda-tanda di atas?

lihatlah, ada “sesuatu” di sana.

kelihatan tidak?

tidak?

masa?

berarti Anda perlu memeriksakan mata Anda,

 

dan saya perlu memeriksakan otak saya.

cuma karena CTscan itu lumayan eemm,,,

jadi lain kali saja lah.

apasi ngaini??? bukan apa-apa. Hanya pengantar saja.

Pesan kali ini adalah : sayangi kepala Anda. Sayangi otak Anda.

Jangan dirusuh dengan menjedot-jedotkannya ketembok, menusuk-nusuknya dengan jarum besi panas, atau memikirkan hal-hal yang seharusnya sudah ditaruh di pengki.

Jadi ingat, ada kata-kata Rasul yang bagus soal ini jarum besi :

“Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR.Thabrani).

 

gggrrrrhhh

 

jadi saya ulangi : marisayangikepalakita, marisayangiotakkita.

 
Leave a comment

Posted by on October 29, 2012 in Uncategorized

 

Tags:

Aside

Berawal dari obrolan ceriwis kamar 4 pagi ini, maka tergerak membuat tulisan gado-gado ini.
Pagi ini muncul satu kosakata baru : hati bolong.
Sebutan untuk hati yang udah gak sanggup merasa tertohok lagi, gak sanggup merasa jlebb lagi, gak sanggup tertampar lagi karena terlalu sering mendapatkan tohokan dan tamparan. Anda bayangkan kalau sesuatu yang lembut itu sering ditohok, lalu bolong, lalu kalau tohokan itu berlangsung terus maka dia akan loss begitu saja. Tak terasa lagi.
🙂

Sebuah filosofi yang aneh, memang. Tapi acapkali hati manusia memang begitu. Mungkin itu sebabnya sholat wajib hanya 5 kali, sekitar 5×15′, jadi sekitar 75 menit dari 1440 menit yang dikaruniakan, agar tidak menjadi jenuh. Mungkin itu sebabnya Allah memberi kesempatan ibadah dalam berbagai bentuk, tak hanya satu-dua macam, sehingga manusia semakin berkembang.

Juga dalam maksiat.

Ada manusia yang sering bermaksiat sampe tak merasa malu lagi. Sering make kerudung dibelit-belit sampe ga ngrasa kecekek lagi. Sering pake baju ketat sampe gak ngrasa kalo sebenernya telanjang. Sering ngomong kasar sampai jadi kebiasaan.
Dan di masyarakat pun begitu. Sudah jadi rahasia umum kalau si ex suka ngambil pisang di kebun tetangga, kalo si ye itu em-bi-e, kalo si zet dihamili kakak sendiri…
Sehingga kalo ada yang mengeluh : “ternyata banyak fenomena seperti ini di sekitar kita..”
hanya muncul jawaban : “iya tauu. si itu juga begini, si ini juga begitu, gak cuma satu dua…”.
Oke. Kita tidak hanya bisa membicarakan, bukan begitu bukan?
Pasti ada peran sekecil apapun yang bisa dimainkan. Pasti ada cara untuk bernahi munkar dan beramar ma’ruf. Pasti ada. Sebagai apapun kita. Tinggal mau atau tidak.

Oke, tinggal realisasinya, kok.

Ya Allah, jika tidak orang tuanya, maka semoga anak-anak mereka kelak adalah orang-orang yang akan menegakkan dienMu…

#harapan itu masih ada.

hati bolong

 
Leave a comment

Posted by on October 23, 2012 in Uncategorized

 

tetes

Run!!

Hujan Bogor tak pernah menunggu
Membasah dan membasah saja ia tau
Kilau wanginya menyusup harum dalam debu

Maka pada hujan ku berkabar
Tentang hari-hari yang keras sangar
Tentang reranting yang menyarukkan langkah kasarku di jalanan berbatu
Tentang adaku sesaat lalu yang terkoyak melawanmu

Oh tidak! Untuk kali ini tiada sisa ruang lagi untukmu
Sudah pergilah saja sana!
Pergi bersama badai yang sore tadi menahan lajuku
Karena untuk ini aku telah membayar, sungguh mahal
Untuk sekadar tahu bahwa Tuhanku selalu mendengar

Sungguh, tercelanya aku..

 
Leave a comment

Posted by on October 19, 2012 in Uncategorized

 

Tags:

Aside

Juli 2012,
Aku pulang. Menjumpaimu masih dengan segala engkau yang kukenal dulu. Kecuali wajahmu yang semakin keriput, dan berbagai obat yang setia menemani di samping pembaringanmu.
Semangatmu, semangatmu masih. Bahkan engkau menambah kesibukan sekarang, dengan membuka warung kecil di rumah. Katamu, kau ingin menolong tetangga-tetangga kita, agar tidak terlalu jauh untuk sekadar keperluan kecil harian. Kusadari itu, karena laba yang kau tetapkan pun hanya sekadar saja. Sampai ku heran-heran. Ah, aku memang selalu heran-heran tentang kau, ding ^^.
Lalu datang surat itu, undangan reuni SMA. Antusias kau baca. Membacakan satu-satu nama teman-temanmu yang tertera di sana. Masih saja kau ingat mereka, detil bahkan. Tentang si bapak ini yang begini, tentang si ibu itu yang begitu, tentang perjuangan dan keberhasilan mereka…
Dan kisah-kisah heroikmu menempuh sejarah pendidikanmu, hhh, kembali aku merasa belum apa-apa.
Masa-masa 60-70an itu, saat jalanan desa kita masih tanah-batu, seragam sekolah masih susah didapat, apalagi alas kaki untuk sekolah. Juga uang sekolah yang harus kau usahakan sendiri dengan memikul hasil-hasil kebun, lalu berjalan berkilo jauhnya ke pasar. Juga kisah itu, kisah pulang sekolahmu saat petang-petang melewati hutan, yang kau bilang hampir tercebur ke sumur tanpa pagar. Kubayangkan kalau kau hilang saat itu tentu tak ada aku sekarang. ^^

Semua mengakar. Kesukaanmu berbagi, perasaanmu yang halus sangat, kemampuan diplomasimu yang luar biasa, kerelaanmu berkorban, kemampuanmu melakukan hampir ‘apasaja’, juga masakanmu yang enak :D.

Sering saat kita sedang bersama, kau bercerita tentang bermacam hal, meramunya menjadi pelajaran-pelajaran hidup. Dan baru kini kurasakan aku jadi sering menyebut namamu, “iya..kata ibu saya begitu..”. Rupanya banyak tentangmu telah terinternalisasi ya..

Dan kenang tentang masa bersamamu dulu, kini menumbuhkan tanya : mampukah aku menjadi sehebat engkau di mata anak-anakku nanti…?

Allahummaghfirlana dzunubana wali walidaina warhamhuma kama robbayana sighoro..

Love u, as always

 
Leave a comment

Posted by on October 13, 2012 in Cerita Kata

 

Tags:

Aside

Dalam sebuah perjalanan
menyusuri pantai utara
rel kereta di tengah malam
Purworejo-Jakarta…
ku teringat masa indah
di masa-masa kecilku
kenangan bersama ayah di kampung halaman..
sungguh indah
terlalu manis untuk dilupakan
sungguh mesra
meski beriring ketegangan

suasana pengajian petang
seperempat malam pertama
riuh rendah suara hafalan atau cemeti hukuman..
hening hanya desahan
kala epik dipaparkan
liku-liku perjuangan para pahlawan Islam..
yang gagah perkasa
di medan perjuangan
yang tak takut mati untuk meraih kemuliaan Islam

Ayah terimakasih
nanda haturkan kepadamu
yang telah membimbing masa kecilku meniti jalan Tuhanku

Ayah engkaulah guruku
yang terbaik spanjang usiaku
yang telah mendidik dan membesarkanku bersama ibu…

Allah..semoga Kau berkenan
membalas sgala kebaikannya
menerimanya dan meridhoinya
di hadiratMu…

(SuaraPersaudaraan)

*with little edit -> Purworejo, bukan Surabaya, he..

-edisipengenpulang-

Kenangan Bersama Ayah

 
2 Comments

Posted by on October 11, 2012 in Uncategorized

 

Tags:

randomologi #2

1. “Selamat belajar hidup, Nak…”, she said.
Thanks… 🙂 It gives me everything. Never ending learning.
Belajar agar bisa merasakan manisnya iman, di kala segala hal berorientasi kepada Allah atau Allah atau Allah. Ah, sulitnya merealisasi kata “orientasi” itu

2. Pernah sangat sibuk? Tidak sempat (bahkan) untuk membaca Al Qur’an atau menjalankan sunnah lainnya? It’s no problem. Niatkan saja segala kesibukan untuk ibadah. Insyaallah, jika setiap kesibukan diniatkan ibadah, maka capek jasmani justru akan semakin menguatkan ruhani. Lalu pada akhirnya tak ada tempat kembali selain berkholwat dengan Allah. Ini salah satu trik ketika sedang futur, alias lagi muales buanget memenuhi target yaumiyah (maklum, manusia). Niatkan segalanya untuk Allah, review niat setiap saat, lalu kerjakan apa saja yang baik. Semoga dengan ikhtiar itu Allah akan berkenan mengembalikan semangat kita.

3. Memelihara rasa sakit, jasmani ataupun ruhani, itu bisa mengarah kepada ketidakbersyukuran atas begitu banyak karunia Allah. Berikhtiarlah selalu untuk sembuh, and let Allah take the rest -> ngomong sama gue, Eye? Siapa lagi.

4. Ihsanlah. Dan kau tidak akan kecewa.

5. Terlalu banyak orang yang diutus Allah untuk menyayangi kita, membantu kita. Berterimakasihlah dan bersyukurlah selalu atas mereka.

Alhamdulillah, and thanks for this incredible dien….

 
1 Comment

Posted by on October 10, 2012 in Lookinside

 

0,5+0,5

…Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…. 24:26.

Begitu janji-Nya. Yang menentramkan hati RasulNya yang kala itu sedang gundah oleh kabar tak sedap yang menerpa Bunda ‘Aisyah.

Lalu ada apa? Sudahkah semua selesai begitu saja ketika belahan jiwa satu bertemu dengan separuhnya? Seperti cerita dalam dongeng “they get married and life happily ever after”. Iyek banget yah? Meuni keren yang gini mah. Unfortunately kita tak pernah mencicip bagaimana itu hidup, main gundu, bahkan menikah di negeri dongeng. Karena dongeng hanya ada sebelum tidur. Dan kita belum mau tidur. Hrrrgh.

Menjadi “baik” itu adalah sebuah proses seumur hidup, yang tak hanya berhenti ketika “perempuan yang baik dipertemukan dengan laki-laki yang baik”. Ekspektasi yang terlalu tinggi, dan berujung pada kekecewaan, pada akhirnya bisa menjadi cikal kehancuran sebuah ikatan. Wuiih serem amat kehancuran  akhirnya menemukan jawaban, kenapa ada ikatan yang hanya bertahan seumur nyamuk. Ini kali ya.

Ke”baik”an itu pada akhirnya terletak pada bagaimana keduanya dapat tetap berproses menjadi semakin baik ketika telah bersama dan bukan saja berhenti pada stadium ke”baik”an pada saat keduanya “dipertemukan”.
Artinya, beban benar-benar bertambah dua kali lipat. Istilah setengah dien itu memang benar-benar serba setengah : berat dan tanggungannya baru setengah. Nah, segalanya menjadi genap-satu ketika “pertemuan” itu. Pun proses menjadi baik itu benar-benar dobel tanggung jawab. Itulah kenapa Allah ingetin pake At Tahrim : 6 untuk menjaga diri DAN keluarga dari api neraka.

Maka, yah, bagi yang belum menikah : berusahalah untuk terus menjadi baik. Sadarkan kembali diri bahwa dia yang akan datang nanti bukannya yang “selalu baik” di mata kita, karena kita merasa telah sebegitunya “berusaha menjadi baik untuk pantas mendapatkan dia”, sehingga kita layak menagih janji Allah di 24:26 itu. Dia yang kelak akan datang adalah sepaket utuh dirinya apa adanya.
Dan, yakin saja. There is always a happiness in every moment, even happiness in tears. Sehingga “happily ever after” itu tak hanya ada di negeri dongeng.

Pada akhirnya kembali saluuuut banget sama bapak-ibu gue yang berjaya hingga saat ini…Alhamdulillah.

——————————————————————————————————————————————————————————————————————–

Ini note nanaonan sih Eye?

Entah. Tiba-tiba saja.

Tiba-tiba apa?

Tiba-tiba hujan.

Setelah lepas maghrib tadi, mengantarmu di bawah gerimis. Dan dalam jabat tangan perpisahan itu aku dengan bodohnya berkata, “mungkin ini terakhir kali aku boncengin kamu…”. Ah. Sebenernya mah tidak terlalu begitu bukan. Belum tentu juga. Pun Bogor-Jogja masih dalam jangkauan, kiranya. Kita bisa bertemu lagi, kita bisa boncengan motor lagi. Bisa cerita-cerita lagi.

Hasssyaaahhh. Sudah, ya!
Barokallah for you. Plus selamat berpusing, my besties… 🙂

 
1 Comment

Posted by on October 9, 2012 in Cerita Kata, Lookinside

 

Tags: