RSS

Monthly Archives: September 2012

ckckck #2

latar : dalam angkot, siang.

ibu : (membuka bungkus makanan,lalu membuangnya ke lantai angkot)
anak : (membuka bungkus makanan, lalu memasukkan bungkus ke dalam tas)
ibu : (nadatinggi) adek! kok bungkusnya dimasukkan ke tas sih, itu kan kotoor…nanti tas kamu ikutan kotoor..ayo buang, buang, cepet!
anak : tapi kan bu…nanti mengotori lingkungan…
ibu : iihh pake ngeyel, ibu bilang cepet keluarin!
anak : (mengeluarkan sampah2 dr dalam tas, dan ternyata cukup banyak)
ibu : ya ampyuuun banyak banget sampahnya. tuh kan jadi kotor tasnya…

!$_%(“?k;:-+,’&

tettoot. dan penonton pun kecewa.

kesimpulannya, generasi penerus yang baik dilahirkan dari generasi pendahulu yang baik, insyaallah.
seperti orang-orang zaman dulu, yang tak perlu mengenal seperti apa Hafshoh, cukup dengan mengenal sang abi, ‘Umar bin Khattab.

jadi, mari berusaha meneruskan kebiasaan dan amal baik generasi pendahulu, dan selalu mencoba mewariskan yang terbaik pula.
-huft,tomyselfbanget-

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on September 25, 2012 in Cerita Kata

 

Cinta nomor 22

Ganti wajaah….
cling-cling-cling.
Bosen menatap mata tajam si Elang Abu-Abu, maka bekgron saya ganti jadi gambar hasil jepretan pas dalam perjalanan ngojek motor bubulak-darmaga, pake DSLR Canon EOS 500D, malam hari sekitar ba’da isya. Kesannya agak dramatis-mistis-miris, karena njepretnya ngasal. he…

Amanah baru menuntut saya sering memencet-mencet DSLR dan jatuh cinta pada jepret-menjepret. Seperti umumnya cinta, ia membutuhkan konsekuensi-logis, kali ini konsekuensinya adalah belajar cara makenya. Belajar teknik fotografi, dapetin enjel yang tepat, ngatur-ngatur fokus, shutter speed, yah semacam itu. Kadang hasilnya masih acakadul, gak fokus, gelap, terbakar, yah begitulah.
Namanya juga cinta, he…
Cinta nomer 22.
Tanya kenapa 22?

tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

#oiya. sekalian cerita (pada diri sendiri), widgetnya juga ada yang baru, dan dibuat agar saya lebih mudah menemukan tulisan terdahulu. Karena kadang apa yang telah ditulis menjadi bumerang mematikan ketika secara tidak sadar telah melanggarnya.

Last, blog ini dibuat agar apa yang tertoreh lebih bermanfaat, bagi diri sendiri, syukur-syukur bagi orang lain.
Yah, semoga.
Semoga bermanfaat meski sedikit.

Diiringi lyric :
Adakah kau lupa kita pernah berjaya
adakah kau lupa kita pernah berkuasa
memayungi dua per tiga dunia
merentas benua
melayari samudera…
keimanan juga ketakwaan
rahsia mereka
capai kejayaan…

 
2 Comments

Posted by on September 19, 2012 in Cerita Kata

 

autocorrect

Monolog. Berpetualang antara hati-otak-hati. Ia menjadi bagian dari teknik dalam ritual muhasabah, pelampiasan emosi sesaat, pengakuan dosa, atau sekadar menata campuraduknya pikiran. Monolog, ya, karena meski Tuhan selalu mendengar, tapi kadang si manusia-nya lah yang tak mampu menangkap jawaban Tuhan seketika itu. Dalam proses itu kadang kita gagal mengkonfirmasi diri sendiri. Menghasilkan prasangka-entah yang didesain otak menjadi seolah-olah menyenangkan. Sebuah kesenangan atau kesedihan palsu. Sebuah “andai”.

Itu jebakan, sobat.
Percayalah Tuhan kita tidak pernah menyuruh kita berandai. Rasul-Nya hanya mencontohkan “berencana”, bukan “berandai”. Sehingga yang dihasilkan bukan lintasan rasa dan pikir yang palsu, tapi sebuah strategi melangkah menjalankan amanah hidup.

Seharusnya dalam setiap monolog kita lebih berusaha menelusuri diri dan bukan menelusuri langit-langit. Telah dipakai untuk apa saja tangan, kaki, telinga, mulut, mata, telah mendebarkan apa saja jantung, telah mencerna apa saja usus, telah membisik apa saja hati, telah mengolah apa saja otak, lalu menimbang berapa gram kondisi iman saat itu. Apakah ia telah sanggup melewati prasyarat di tiap tingkatan langit untuk mengetuk ridho Tuhannya?
atau ia telah tertolak mentah-mentah bahkan sebelum mencapai langit pertama, karena justru ia masuk ke dalam folder-folder superyotta sang Atid?

Ya Rabb na’udzubillah min dzalik.
hindarkanlah kami dari amalan-amalan yang tidak diterima.

Maka, mari mencoba saja untuk terus melaju bersama amal terbaik. Sehingga tak akan ada rasa malu dan penyesalan ketika kelak menghadap Sang Pemberi Amanah.

 
2 Comments

Posted by on September 16, 2012 in Lookinside

 

B + AC -> AB + Catalyst

Menu berikut tersaji hasil kombinasi beberapa bahan yang secara acakadut berhasil diformulasikan. Standar Operational Procedure-nya dibuat ala saya. Tulisan ini adalah refleksi mimpi saya, jika kejadian yang saya alami 27 Romadhon kemarin kembali persis saya alami di Romadhon 1449 H. Silahkan di-orlep. Jika rasanya tak sesuai dengan lidah Anda, maka silakan di-re-modif dengan SOP sendiri.
Secara sangat khusus teruntuk diri sendiri, secara agak khusus teruntuk saudara-saudara Catalyst, dan secara umum teruntuk bagi seluruh pembaca-penengok-pelirik tulisan ini.

27 Romadhon 1449 H. Siang. Bogor.

Toyota QQXX hitamku baru saja keluar dari pintu tol jagorawi ketika jam menunjukkan pukul 14.30. Siang di akhir Romadhon itu cukup terik. Si kecil Bara sedang pulas di pangkuan, Badar pun sedang terlelap di jok belakang. Di sebelahnya, Laily tengah komat kamit. Di tangannya majmu’at kecil terbuka menampilkan baris-baris arba’in. Kunjunganku ke Bogor kali itu karena undangan dari pengelola Catalyst Foundation, Shobar* (bukannamasebenarnya). Ada acara buka bersama sekaligus beberapa agenda penting lainnya.
Aku menoleh ke driver di sebelahku yang mulai tampak kelelahan.

“Yah, kita istirahat di masjid raya saja ya…”, suamiku mengangguk.

Ketika belok ke arah masjid raya Bogor, baru kurasakan ada yang aneh. Ternyata ban depan mobil kempes. Bapak-bapak parkir di pinggir jalan berteriak mengingatkan sambil menunjuk-nunjuk ban mobil depan. Kubuka kaca depan, “Pak, di dekat sini bengkel dimana ya Pak?”

“Oh ada di sana Bu, putar balik lalu ke arah belakang terminal, ada bengkel di situ…”. Aku mengangguk sambil berterimakasih.

Bengkel belakang terminal itu…sebentar! Memoriku seperti terputar kembali ke masa lalu. Ketika itu akhir Romadhon,, emmm 1433, kalau tidak salah, sepulang dari gramedia memburu kertas A4 100 gram yang tak ada di belahan dunia manapun, ban motorku kempes, lalu aku dan kawan seperjalanan terpaksa nongkrongin bapak bengkel menambal ban selama sekitar setengah jam.

Tapi… bengkel yang sekarang rupanya bukan bengkel yang dulu itu. Bengkel ini lebih besar, dengan area yang lebih luas sehingga bisa memuat mobil. Peralatannya lengkap, dan pekerjanya pun lebih banyak. Si bapak-bapak bengkel datang menyambut dan menanyakan masalah kami. Si bapak ituh! Hm… berarti bengkel ini bengkel yang dahulu itu. Wah wah, sudah berkembang sebegini pesatnya!

Si bapak pemilik bengkel segera menugaskan anak buahnya untuk mengurus mobilku. Sementara ia mempersilakan kami duduk di kursi tunggu, lalu ia kembali ke tempat duduknya di meja kasir. Kulirik mejanya, hm, tak ada lagi kopi panas mengepul seperti waktu itu. Dan kuperhatikan satu-per satu pekerja bengkel, tak ada satu pun yang merokok. Apakah mereka semua… emm…sedang shaum? Rasa penasaran menggelitik. Lalu kudekati bapak pemilik bengkel.

“Ngomong-ngomong Pak, pas masih mahasiswa dulu saya pernah kesini pas ban motor saya kempes. Tadi saya hampir pangling, bengkelnya sudah maju pesat rupanya…”

“Hahaha…yah begitulah Bu, hasil jerih payah sama kawan-kawan ya gini ini lah jadinya…” jelasnya sumringah.

“Ooh…saya senang Pak melihatnya, apalagi bapak-bapak di sini tidak merokok lagi seperti waktu itu, emm…apa karena sedang puasa ya Pak?”

Si bapak tertawa ringan. “Habis bagaimana lagi Bu, saya sering diceramahin sama anak saya. Katanya sudah tua, harus tobat. Sejak ngaji di pesantren tuh dia jadi begitu…rajin sholat, rajin puasa pula. Malu saya jadinya..hahaha.”

Aku bengong sesaat. “Ooh jadi anak bapak sekarang di pesantren?”

“Iya. Itu yang pesantren gratis itu Bu, dari Yayasan Umar…emm…apalah itu namanya, punya alumni IPB katanya. Saya ditawarin sama mereka, yasudah saya masukin lah anak saya kesitu. Dari pada nggak sekolah jadi berandalan macam teman-temannya dia nanti.”

Yayasan Umar? Apa yang dimaksud…

“Yayasan Umar bin Khattab ya Pak? Yang di Darmaga ya Pak?”

“Iya iya itu… bagus itu di situ Bu. Semua gratis. Biaya hidup ditanggung. Tapi sejak bengkel saya maju, saya urus anak saya sendiri, cuma pesantrennya saja yang gratis.”

Aku tambah bengong. Begitu rupanya…Yayasan Umar bin Khattab milik bersama teman-teman seangkatan-seperjuangan di IPB dulu, rupanya kiprahnya mulai melebar. Ah ya. Mungkin reuni plus buka bersama nanti sore sekaligus akan membahas perkembangan Yayasan ini, yang merupakan salah satu hasil perkembang-biakan dari Catalyst Foundation.

Hm…aku senyum-senyum. Lalu berpamitan untuk kembali ke tempat dudukku semula. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Penjual minuman yang dulu pesta keripik di sebrang jalan kini tak ada lagi. Kini ada kedai kecil di situ. Di pintunya tertulis kalau selama Romadhon hanya buka sore sampai malam. Mungkinkah punya si penjual waktu itu? Entahlah.

Pemandangan di kanan-kiri bengkel pun jauh berbeda. Di samping pembangunan fisiknya yang sangat terlihat berubah, perilaku orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar situ pun berbeda dari sewaktu dulu aku nongkrong setengah jam di sini. Tak ada lagi gerombolan anak punk yang dulu melingkar di depan bengkel, bukan sedang liqo, tapi sedang main kartu. Tak ada lagi pengamen-pengamen kecil yang berteriak-teriak sambil minum teh gelas. Tak ada lagi hal-hal yang membuat ber-ckck dan istighfar berulang kali, seperti waktu dulu itu.

“Bunda, Bunda,” Laily membuyarkan nostalgiaku. “Hadits ini maksudnya apa? Kasih contohnya donk Bunda.”
Aku membaca hadits yang dimaksud. Eh, hadits ini. Hadits bernuansa sindiran telak yang dulu kutunjukkan ke teman seperjalanan, di sini, sambil menunggu tambal ban. Hadits arba’in ke 20.

“Sesungguhnya, sebagian dari apa yang bisa dipetik oleh manusia dari kata-kata kenabian yang pertama ialah : Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”(HR. Bukhari).

Lalu kuceritakanlah cerita masa lalu itu. Laily menyimak antusias. Tentang orang-orang di sekitar terminal itu, 15-an tahun yang lalu. Perilaku mereka yang sangat tidak menghormati bulan Romadhon : makan-minum-merokok di tempat umum, main kartu, teriak-teriak sembarangan. Seperti tak ada rasa malu sama sekali, tak menyadari bahwa bulan itu adalah bulan shaum.

“Lalu kenapa bisa berubah seperti sekarang, Bunda?”.

“Rahmat Allah, Nduk. Allah memberikan titik terang kepada pejuang-pejuang Islam di Bogor ini. Kondisi keIslaman masyarakat di sini semakin membaik. Oleh sebab itulah, kita harus berusaha istiqomah dalam berdakwah ya…Insyaallah Allah akan memberikan balasan terbaik-Nya. Salah satunya seperti ini…”. Duh. Hampir meler gw mengisahkan ini. Laily berusaha mencerna, keningnya berkerut, matanya lurus menatapku, sambil mengangguk-angguk.

“Hmm…Baiklah. Aku akan menulis kisah ini. Setelah liburan nanti aku akan menceritakan kisah ini di depan kelas. Nanti Bunda periksa tulisanku ya!” serunya. Aku tersenyum.

Sebelum pulang, aku mengambil sekotak sarung dari jok belakang, sarung dari tokoku yang sedianya akan dihadiahkan ke salah seorang mualaf yang dibimbing oleh Shobar ketika proses “kembali-fitri”-nya. Kuhampiri bapak pemilik bengkel.

“Pak, saya ingat, dulu saya membawa kertas A4 3 rim yang bapak kira sarung. Dan dulu bapak bilang mau minta satu. Ini pak, saya bawakan sekarang. Maaf sekali ya Pak, baru bisa membawakannya sekarang…”

End.

Semoga mimpi ini terwujud. Tak hanya serupa ini tapi lebih. Tak hanya di Bogor tapi juga di tempat-tempat lain. Seluas-luasnya. Entah 10, 15, 20 tahun lagi, atau ketika para pejuang-pejuang Catalyst telah seluruhnya meninggalkan dunia ini.

Semoga Allah menjaga kita, dalam ukhuwah dan dakwah.

 
Leave a comment

Posted by on September 10, 2012 in Cerita Kata

 

Tags:

Punishment=Education ?

Sesuatu bernama “kesalahan” sangat-sangat-sangat sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, baik dilakukan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, baik yang merugikan orang yang melakukan kesalahan, maupun merugikan kepentingan bersama.

Jika seseorang bersalah terhadap orang lain, ataupun merugikan kepentingan bersama, maka pilihannya 2 : dimaafkan, atau mendapat konsekuensi bernama hukuman. Kedua pilihan itu tentu dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu, seperti tingkat kesalahan, berapa banyak kerugian yang diakibatkan, sengaja/tidak dalam melakukan kesalahan, ada tidaknya aturan yang telah disepakati, dsb. Dalam kehidupan bernegara kita mengenal kitab undang-undang hukum pidana, yang dijadikan rujukan dalam menetapkan hukuman atas suatu kesalahan. Sidang yang ketat pun dijalankan ketika ada suatu kasus hukum terjadi.

Bagi saya, seseorang layak memberikan hukuman kepada orang lain jika dan hanya jika antara si penghukum dan pihak yang dihukum telah ada kesepakatan sebelumnya.

Allah memberikan hukuman bagi hamba-hambaNya yang ingkar sesudah menurunkan Al Quran dan mengutus Rasulullah SAW untuk mengejawantah perintah dalam tataran kemampuan manusia biasa, dan selamanya Dia memelihara kemurnian ajaran Islam hingga akhir zaman. Kewajiban menjalankan perintah sebagai konsekuensi penghambaan pun telah ditetapkan jauh-jauh waktu, ketika Allah meminta kesaksian sebagai hamba dengan bertanya “Alastu birobbikum”, dan dijawab serempak oleh para ruh dengan “Balaa syahidna”. Di dalam Al Quran digambarkan dengan jelas bentuk hukuman yang akan diterima ketika seseorang melanggar perintah Allah. Pemuda yang berzina dicambuk dan diasingkan, orang yang sudah menikah berzina maka dihukum rajam, orang yang membunuh menerima qisas, dan seterusnya.

Dan betapa hukum Allah itu adil. Tak pandang bulu bagi siapa yang melakukan. Seperti sabda Rasulullah : “Sungguh, ketika Fatimah putri Muhammad mencuri, maka akan kupotong tangannya,….”.

Dalam konteks pendidikan, proses menghukum bukan hanya proses membuat jera karena rasa takut, tetapi juga proses membangun kesadaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab. Seperti para napi yang dihukum pun diberikan pembinaan agar bisa menjadi orang yang lebih baik ketika keluar dari penjara.

Dan ini menuntut satu kata : Kebijaksanaan. Oh Rabb, betapa menjadi adil dan bijaksana itu begitu sulitnya… Hanya Engkau yang sanggup mengeksekusi kedua kata tersebut dengan begitu sempurna.

Sebelum memberikan hukuman dan memberikan pembinaan, seorang pendidik hendaklah mereview diri apakah dia sudah menjadi contoh yang baik, apakah ketegasan yang ia berikan kepada anak didiknya juga ia berikan kepada dirinya sendiri, dan apa yang dia lakukan terhadap diri sendiri ketika dirinya sendiri melakukan kesalahan. Seperti seorang sahabat yang langsung menginfakkan kebunnya lantaran ia telat sholat berjama’ah karena keasyikan mengurusi kebunnya, seperti seorang Ka’ab bin Malik yang sabar menjalani pengasingannya lantaran kelalaiannya tidak ikut berlaga di Tabuk.

Disiplin diri seorang pendidik sangat menentukan hasil didikannya. Sungguh sangat disesalkan apabila seorang pendidik termasuk ke dalam golongan yang disebut Allah dalam QS As Shaff ayat 3.

Maka,

Sebelum mendisiplinkan orang lain, disiplinkan diri sendiri.

Keras terhadap diri sendiri dan lemah lembut kepada saudara sesama muslim.

Proporsional dalam menghukum.

Berikan hukuman sesudah ada kesepakatan dan pengertian, sehingga hukuman tidak menjadi kekesalan dan dendam, tapi menjadi kesadaran dan perbaikan diri.

-ngomongsamakaca-

 
Leave a comment

Posted by on September 10, 2012 in Aroundisasi

 

Tags: , ,

silupa

Untuk kali ini memang butuh perenungan kenapa seseorang, sebut saja Saya, punya temen akrab bernama Silupa.

Efek dari pertemanan ini memang sangat dahsyat, menyebabkan saya lupa hal-hal kecil sampai yang penting-penting.
Mulai dari lupa tanggal, lupa nomer hape sendiri pas mau beli pulsa, lupa nyimpen kaos kaki dimana sampe dibawain sama seseorang dari dapur dengan diseret, lupa bawa paketnya pas ke kantor pos mau maketin barang, lupa jemuran, lupa bawa dompet pas udah masuk toko, lupa bawa uang pas naik angkot jd terpaksa harus turun lagi, lupa dimana naruh si Tiko (perkenalkan Tiko, nama panjangnya Tikus, boneka kecil tempat nyimpen simcard) sehingga nomer AS saya sempat tak aktif beberapa waktu. Hergh.

Juga lupa hal-hal penting : ulang tahun seseorang (saya hanya mengingat ultah orang-orang yang lagi saya pedekatein), jadwal kuliah n bimbingan, lupa bawa hard copy makalah pas mau seminar, lupa jalan ke tempat praktikum, sampek lupa apa aja yang pernah saya lupa.

Tapi,
renung renung lagi, pastilah Allah tak menciptakan temen akrab saya ini dengan sembarangan. Silupa mengobati saya dari luka masa lalu yang begitu mendalam (hallah), lupa pada kegetiran kegagalan yang pernah menyusrukkan napas, lupa kejadian-kejadian memalukan, dan lupa hal-hal yang menyakitkan.
sehingga saya selalu bisa meneriakkan kata bangkit dan semangat.
Sehingga saya merasa harapan selalu terbentang dalam keadaan sesempit apapun.

Yahh, pada akhirnya…
Robbana maa kholaqta hadza baatila.

 
2 Comments

Posted by on September 7, 2012 in Cerita Kata

 

Tags: