RSS

Kisah Cinta Insan dan Kamil : Sebuah Komentar

17 May

Tulisan ini dibuat sekadar tanggapan, jika dinamakan resensi mungkin kurang tepat, karena setahu saya resensi punya aturan yang agak ribett. Males deeh.
“Kisah Cinta Insan dan Kamil” adalah judul sebuah novel karya Mbak Ari Kinoysan Wulandari. Terbit tahun 2011. Kenapa bisa saya baca novel itu? Beberapa hari lalu tersiar kabar bahwa ada novel “cinta2an” beredar di anak-anak asrama. Merasa tidak sreg dengan itu, akhirnya novel disita. Akhirnya ikutan baca deh. Baca bagian awal beberapa lembar dan bagian akhir beberapa lembar. Merasa ada yang aneh, akhirnya saya sedikit skimming keseluruhan buku.

Sedikit share ceritanya ya…

Kisah Cinta Insan dan Kamil bercerita tentang sosok Insan, seorang gadis yang bekerja sebagai manajer tim kreatif di sebuah perusahaan. Kerjaannya mendesain baju yang akan dilaunch oleh perusahaan tersebut. Sedangkan Kamil adalah bos besarnya, yang galak dan dingin. Yang mengagetkan, ceritanya ternyata dia dulunya “ikhwan” yang lumayan concern juga dengan dakwah, cuma karena lingkungan kerja Jakarta yang tidak kondusif, makanya urusan dakwah terpinggirkan. Insan berpacaran dengan Bintang, rekan kerja satu kantornya dan pacarannya sudah berjalan 5 tahun, tapi putus karena Bintang lebih memilih orang lain. Sedangkan Kamil pernah berpacaran dan hampir menikah dengan Pingkan, tapi Pingkan-nya kabur pas menjelang acara pertunangan. Di novel ini diceritakan bahwa jauh di lubuk hati, ada kerinduan Kamil untuk kembali pada suasana Islami, dakwah, jihad. Begitu pula dengan Insan yang diceritakan sebagai seorang hafidzoh, ada sisi-sisi dirinya yang digambarkan begitu “murni”.

Singkat cerita, Kamil akhirnya jatuh cinta pada Insan. Kamil pernah beberapa kali bermimpi yang dalam mimpinya dia melihat rumah Insan, dan ada seorang gadis berjilbab yang tersenyum padanya di rumah itu. Ketika pada suatu kali Kamil berkunjung ke rumah Insan, hatinya semakin mantap bahwa Insan adalah jodohnya. Begitu pula dengan Insan, kebimbangannya menerima ajakan Kamil untuk menikah lenyap karena dalam mimpinya ia melihat suatu pertanda yang mengarah pada Kamil juga.

Nah, endingnya, Insan yang sudah mantap hati menerima Kamil itu memutuskan menyusul Kamil yang saat itu sedang ada di Paris.

End.

Nah, saya mau bilang apa ya soal novel ini? Aneh, iya. Dangkal, mungkin. Setengah-setengah gituh…
Kenapa bisa bilang gitu?

Novel ini fiktif, memang. Tapi apakah semua hal harus dibuat fiktif? Saya kira tidak. Ada beberapa hal dalam novel ini yang tidak selaras dengan prinsip yang saya yakini dalam Islam.

Diceritakan di situ bahwa Insan adalah seorang hafidzoh. Anehnya :
1. Dia tidak berjilbab, sampai kemudian setelah dia hafal 30 Juz, dia memutuskan berjilbab.
2. Pacaran, sampai hampir 5 tahun sama Bintang
3. Salaman sama lawan jenis
4. Satu lagi, mau nyusul Kamil (yang bukan siapa2nya) ke Paris

Dan hafalannya tetap terjaga.

Ini yang saya sebut aneh.

Juga ada penggalan cerita yang menceritakan ketika Kamil berkunjung ke rumah Insan, mereka banyak menghabiskan waktu berdua : manjat pohon kelapa, makan kelapa bareng, kejar-kejaran di pantai, padahal belum halal satu sama lain.
Juga diceritakan kalau Kamil berkunjung ke apartemen Insan dan berbincang-bincang akrab. Juga diceritakan tentang Insan menemui Bintang (ketika udah putus) dan curhat tentang suatu masalah.

Begitukan profil seorang hafidzoh?

“ada banyak cara untuk menulis fiksi,
tapi bagi saya yang termudah adalah
memfiksikan seluruh fakta dan kejadian
yang ada di sekitar kita dalam tulisan.”

Kalimat di atas adalah status facebook Penulis novel tersebut. Dan saya sempat berbincang sedikit tentang konsep “fiksi” tersebut, sambil meminta izin memberikan komentar atas novelnya.

Apakah memang segala hal harus difiktifkan? Sampai-sampai profil seorang hafidzoh pun difiktifkan?

Saya memang belum merasakan bagaimana bisa menjadi penjaga 30 juz Al Qur’an. Yang saya rasakan, satu sampai dua juz terakhir saja susah untuk dijaga (itumah lo nya aja Eye… f’-.-). Makanya tadi sebelum menulis ini saya search dulu tema seputar menghafal Al Qur’an. Dan memang ternyata cukup sulit menjaganya. Salah satunya adalah menjaga diri dari kemaksiatan, juga sering mengulang-ulang hafalan.

Eh, betewe nih. Pacaran, jalan berdua, khalwat, maksiat gak? #garukgarukjidat

Apa jadinya kalo cerita semacam tersebut dibaca oleh anak-anak ABG “labil” seumuran SMP-SMA? Bisa jadi berfikiran bahwa pacaran itu boleh, jabat tangan sama lawan jenis itu ndak apa-apa, asal tetap rajin sholat, tetap menghafal Al Qur’an, tetap baik-baik sama temen, tetep rajin belajar dan bekerja…
Hm…tidak memungkiri banyak hal-hal baik di novel ini, tentang persahabatan, etos kerja, profesionalitas, dll. Saya cuma mengomentari sebagian saja dari keseluruhan novel.

Karena menurut saya, sefiktif-fiktifnya novel, tetap harus ada pegangannya, kecuali kalau ingin membuat novel full imaginatif macem Harpot atau Percy Jackson. Hahah. Itu sih udah nyerempet-nyerempet ke penyelewengan akidah. #ketularanliberaldahgw

“Menulis itu dakwah”.

Maap2 nih…saya memang belum bisa nulis novel yang baik…tapi gimana ye, kalo ada novel begini beredar, gak bisa gak komen…#garukgarukjidatlagi

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on May 17, 2012 in Aroundisasi

 

Tags:

4 responses to “Kisah Cinta Insan dan Kamil : Sebuah Komentar

  1. rireysamuray

    May 21, 2012 at 8:44 AM

    tentang insan kamil…….astagfirullah….
    sahabat q selalu banyak cara yang Engkau Beri untuk suatu perubahan….salah satunya dengan tulisan mu ini,,,ia bangga,,,,dan ingin banyak belajar dari ai…

     
  2. Eye

    May 25, 2012 at 2:43 PM

    alhamdulillah jika manfaat…
    sama-sama saling belajar…
    #absolutely kangen ia

     
  3. novaliantika

    May 31, 2012 at 6:49 PM

    hm, ini ya yg waktu itu ai sms..
    yap, make sense sih.. aku sepakat dgn kesimpulan bhw mnjaga hapalan itu tdk mudah..dan kalo novelnya begitu ceritanya sih emang jadi aneh ya,,
    protes aja ai ke penulisnya,,siapatau bs jadi masukan.. 😀

     
    • Eye

      May 31, 2012 at 10:12 PM

      udin mbak. penulisnya udah saya messej via fb panjang lebar. tapi si mbaknya masih kekeuh keknya, dan tidak membalas lagi. entahlah…

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: