RSS

Monthly Archives: May 2012

MJ

Kau satu terpilih
Kulihat di sinar matamu
Tersimpan kekayaan batinmu
Ukhti…dalam senyummu, kudengar bahasa kalam-Nya
Mengalun bening menggetarkan
Kini Allah lah yang selalu, bertahta di benakmu
Dan Allah yang mengiringi, bersama di setiap langkahmu

Percayalah, hanya Allah yang paling mengerti
Kegelisahan jiwamu ukhti
Dan air mata munajatmu
Ukhti yakinlah, hanya Allah yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri…
Indah sanubarimu ukhti…percayalah

*nyontek bahasa kalbu

Kangen kamu.
Dengan segala warnamu.

Kok bisa? kok bisa? biasanya lo jarang kangen ma se-suatu atau se-seorang Eye?
Karena seseorang itu. Salah satu guru kehidupan selama di sana.

Jika berbincang, selalu ada kata-kata berat mengiringi pembicaraan.
Jika menyindir, ada tausiyah tajam merasuk hati.
Jika bercanda, ada kedamaian dalam senyum dan tawa.
Jika curhat, ada solusi dan penyejuk hati.
Jika bertanya, ada jawaban bijak-mendasar yang sering menampar-nampar sambil teriak: “harusnya lo udah paham n amalin Eye!!”. plak plak plak!
Jika mengiringinya membaca buku-buku berat, ada ilmu-ilmu baru.
Jika melihatnya bertindak, ada inspirasi2 baru.
Jika melihat dia sudah mulai angkat bicara, ada napas tertahan menanti petuah-petuahnya.

Ya Allah…fawatstsiqillahumma robithotaha…

Teman-teman yang baik itu…
“Orang yang apabila kamu melihat kepadanya akan mengingatkan kamu kepada Allah, percakapannya menambahkan ilmu kalian dan amalannya mengingatkan kalian kepada akhirat” (HR Abu Ya’la).

MJ itu Mujahidah Jadid. Nama efbinya.

 
Leave a comment

Posted by on May 31, 2012 in Cerita Kata

 

Tags:

celotehannnn

Salah satu tema pembicaraan dalam perjalanan bogor-bekasi-bekasi-bekasi-bogor kemarin adalah tentang wanita.
quote dari driver “tidak ada yang bisa mengerti wanita, karena wanita pun tidak pernah mengerti dirinya sendiri”. lalu disambung dengan “ooo tidak bisaa…” dari seorang penumpang di barisan tengah, yang tentu saja seorang wanita, yang mungkin termasuk kategori wanita yang mampu mengerti dirinya sendiri.

#just intro

Dalam perjalanan hari itu ada sepenggal waktu sore yang sangat sunyi. hanya ada saya dan hati. berbicara campur aduk mencoba mengurai sebutir kekusutan. dengan berulang-ulang kata “Allah”. dengan mencoba mengingat segala dalil-dalil rasional yang diturunkan-Nya. dengan mengingat segala teori-teori yang pernah terindra. dengan mencoba berdamai dengan perasaan. lalu memutuskan untuk berfokus pada apa yang harus dikerjakan, bukan apa yang harus di-rasa-kan perasaan.
memang kadang di titik itulah wanita sulit dimengerti. perasaan yang terlalu mendominasi dan terlalu terekspresi.

Dalam perjalanan hari itu ada hikmah. salah satunya silaturrahim. saya tersadarkan. jika dengan aktivis se-Indonesia aja ada forum silaturrahim, bagaimana dengan orang-orang terdekat rumah? seharusnya akses fisik yang mudah tidak terhalangi oleh akses maya yang memang jauh lebih mudah.

Dalam perjalanan hari itu ada hikmah. bahwa membuat sistem itu memang harus rapih sedari awal, awal sekali. jika tidak, maka dibutuhkan tenaga ekstra untuk memperbaiki keadaan yang “sudah terlanjur”. belajar. belajar sekali lagi.

Dalam perjalanan hari itu ada hikmah. bahwa mungkin sesekali kita pernah meremehkan suatu hal, suatu sikap, atau suatu kebiasaan orang, tanpa menyadari sebenarnya untuk apa ia melakukannya, dan apa manfaat yang bisa didapat ketika ia melakukannya. dan bagaimana manfaat yang kita rasakan juga ketika kita melakukannya.

Dalam perjalanan hari itu ada hikmah. bahwa skenario Allah terlalu misterius untuk diusik dengan sesuatu yang tidak sepantasnya. hanya ada satu pilihan pada akhirnya : berjalan dalam koridor-Nya, meski di waktu-tempat-situasi yang hanya kita dan Dia.

Dalam perjalanan hari itu…saya jadi ingin pulang, sejenak saja.

Dalam perjalanan hari itu…

Terimakasih sangat, sodara-sodara…

-hanya sekedar oase sejenak, pelepas dahaga ruhani. mari kembali pada rutinitas-dinamis kembali-

 
1 Comment

Posted by on May 28, 2012 in Lookinside

 

Tags:

Mei_Rah_Jambu

Minggu 20 Mei, Hari kebangkitan hati (kembali). Gara-gara dua pembicara inspiratif yang menggugah. Sedikit share hasil nongkrongin mereka selama sekitar 3,5 jam di Seminar Pra Nikah FKMC, FPIK, IPB :

Mbak Asma said : Jangan menikah hanya karena jatuh cinta. Karena rasa jatuh cinta itu akan menghilangkan semua-mua yang seharusnya dipersiapkan untuk bekalnya. Akan menjadikan lupa pada 5 persiapannya, yang kata Ustadz Salim, bukan hanya dipersiapkan ketika menjelang masa pernikahan tetapi juga sepanjang hidup kita :

1. Ruhiyah
Jika menikah adalah menyempurnakan setengah agama, maka mari lihat pada diri kita bagaimana kini kita menjalankan yang setengah sekarang ini. Apakah sudah istiqomah kurvanya ? Jika belum, bagaimana bisa siap menanggung setengah lagi ?

2. Tsaqofiyah
Membaca buku-buku tentang ta’aruf, pernikahan, mendidik anak, dsb, bukan sesuatu yang tabu lah ya harusnya. Meski sering di-cie cie dan di-ehm ehm-in, stay cool aja mbak, mas…
Secara, ketika sudah menjalani nanti belum tentu akan ada waktu untuk belajar (lagi).
Dan kata Ustadz SAF, harusnya baca buku-buku seperti itu udah dibaca pas dari jaman kelas satu esempe -wew!-. Tapi karena sudah telat, yasudahlah mari persingkat prosesnya menjadi satu-dua semester atau satu-dua tahun ke depan… jadi SKS dah.

3. Jasadiyah
Siapa yang pengen punya banyak anak? Heheh. Baru beberapa waktu kemarin dapet sms dari seorang-teman (ijin codif ya) :
Riwayat seorang nenek (62 tahun) :
– Tahun 2005 pensiun mengajar setelah 40 tahun mengajar
– Memiliki 19 anak, 16 anak kandung dan 3 anak angkat (anak yatim)
– 15 anak pertama lahir 15 tahun berturut-turut, anak ke 16 lahir 5 tahun sesudah anak ke 15.
– Tidak ada anak yang kelaparan
– Mulai ngajar umur 12 atau 14
– Menikah umur 18
– Ketika ada program KB, beliau tidak mau ikut.

Nalo, salah satu persiapan penting untuk menikah adalah persiapan jasadiyah. Kalo mau punya banyak anak seperti Ibu di atas, maka bersiap-siaplah wahai para calon ibu (ini hanya dalam kasus anak ya, beloman bicara tentang tugas-tugas rumah tangga sehari-hari, yang saya perhatikan membuat beberapa akhwat pasca menikah menjadi lebih kurusan, gak semua siih…). Para calon bapak juga nih, siap-siap bekerja ikhlas, keras, cerdas, untuk menafkahi istri n putra-putrinya kelak.

4. Maaliyah
Buat para ikhwan, bagaimanapun persiapan maaliyah itu penting. Gimana kalo ntar calon istrinya minta mahar Fortuner yang gress ? hahah. *itusihkebangetan.
Gak gitu juga sih.
Pembahasan seputar ini kiranya banyak lah ya, intinya masalah finansial juga merupakan salah satu yang perlu dipersiapkan.
Nah untuk para calon ibu, gw jg insyaallah, mari latihan manajemen keuangan… ntar bakal jadi ibu-ibu DPR, Dewan Pinansial Rumah, seumur umur. Yang bakal menerima proposal-proposal pengajuan dana dari anak-anak, bakal menyusun anggaran bulanan, bakal menjadi petugas penjaga brankas suami, yah seputar itulah.
Karena kata ustadz Salim, rumah tangga kadang bermasalah bukan karena tidak terampil mendapatkan uang, tapi karena tidak terampil dalam menghabiskan uang.

5. Ijtimaiyah
Sempat saya singgung di tulisan sebelumnya tentang hidup bermasyarakat. Secara, kita-kita para akhwat tidak pernah tahu bakal dijodohin Allah sama orang mana. Maka, persiapan untuk terampil bergaul secara sosial menjadi penting. Pun kalau kita jodohan sama tetangga sebelah rumah, pun setelah menikah tinggal di sebelah rumah, tetap saja ada banyak hal dalam masyarakat yang harus dipelajari, hal-hal yang menjadi berbeda antara sebelum dan setelah menikah.
Yang bagian lebih beratnya nih, menikah adalah membuat basis bagi diri, pasangan, dan anak-anak, agar menjadi pondasi-pondasi masyarakat yang kuat. Nah, karena tak semua keluarga memiliki kesadaran untuk membangun pondasi yang kokoh, maka bagi yang sudah sadar memiliki tanggung jawab lebih untuk menyadarkan yang belum sadar. Saya melihat ini pada beberapa rumah tangga sukses para dai-daiyah di sekitar saya kini. Mereka yang rata-rata telah “beres” dengan rumah tangganya, Allah lanjut menguji dengan membebani mereka masalah-masalah rumah tangga orang lain untuk ikut andil menyelesaikan, jadi tempat curhat dari sana sini.

Next,
Dari ustadz Salim lagi, kriteria seseorang siap menikah adalah ketika seseorang itu menikah bukan karena ekspektasi tapi obsesi. Ekspektasi artinya menginginkan pasangan dan kehidupan ideal pasca menikah, sebagai contoh (ambil diri sendiri aja dah) : gw pengen nikah sama Shahrukh Khan (secara gw ngefens berat sama die pas jaman kanak-kanak dulu) biar sering dibawa ke luar-luar negeri, hidupnya seneng coz nyanyi-nyanyi terus sepanjang hari, ganteng pula, weeeh… hush. hush. Insap Eyeee.

Nah, jadikan menikah sebagai obsesi, dimana tekad yang ada adalah menjadikan diri dan keluarga bersama-sama menjadi lebih baik, lebih bermanfaat, lebih shalih, lebih berjaya ketika di laut dan lebih banyak menang ketika di darat (singkatnya : Jalesveva Jayamahe… #eh).

Last, beberapa high quality quote :

“Kita harus bersiap ketika prosesnya datang cepat maupun datang lambat, atau bahkan sangat lambat menurut pandangan khalayak” (LL). Jadi jomblo kerennn.

“QS. Ar Rum : 21 menyiratkan konsep kesejiwaan dalam hal jodoh. Dan kesejiwaan terjadi ketika ruh-ruh saling mengenal, dan mereka saling mengenal karena ikatan IMAN” (SAF). Juga QS 24:26.

“Saya saat ini tidak terlalu mengharap pernikahan di dunia, tapi saya sangat mengharapkan pernikahan di surga” (MFK). Ya. Kematian jauuuuh lebih dekat dari apapun rencana kita.

Sekian.

Untuk yang esok akan menghalalkan, selamat berproses menuju sakinah, mawaddah, dan rahmah.

#Kepiting rebus lompat-lompat
Jatuh ke sungai terbawa arus
Sepenuh jiwa ana ucapkan selamat
Semoga Allah memberkahi selalu,
Ukhtuna Seztifa Miyasiwi

 
2 Comments

Posted by on May 25, 2012 in Cerita Kata

 

Tags: ,

oasejenak

Absolutely complicated.
sistem ini Kau ciptakan.
Detilnya membuatku terbengong-bengong memikirkannya.
Mereka yang Kau tugasi menyertai pembentukan dalam rahim-rahim…
yang Kau tugasi membalikkan gunung bagi kaum Luth…
yang Kau tugasi meneguhkan iman…
hingga yang mengatur edar galaksi-galaksi di seantero jagad,,
Mereka hamba-hamba-Mu yang patuh lagi mulia,
berada dalam alam Malakut yang tak terindra…

Jika daun yang jatuh pun tak luput dari kuasa-Mu,
maka seindah-indah cerita adalah garis-garis iradah-Mu…

“Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkau memutuskan perselisihan di antara hamba-hambaMu. tunjukkanlah kepadaku kebenaran yang diperselisihkan, dengan izinMu. Sesungguhnya, Engkau menunjuki barangsiapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus” (HR. Muslim)

-pernah membayangkan surga?-

 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2012 in Lookinside

 

Tags: ,

Kisah Cinta Insan dan Kamil : Sebuah Komentar

Tulisan ini dibuat sekadar tanggapan, jika dinamakan resensi mungkin kurang tepat, karena setahu saya resensi punya aturan yang agak ribett. Males deeh.
“Kisah Cinta Insan dan Kamil” adalah judul sebuah novel karya Mbak Ari Kinoysan Wulandari. Terbit tahun 2011. Kenapa bisa saya baca novel itu? Beberapa hari lalu tersiar kabar bahwa ada novel “cinta2an” beredar di anak-anak asrama. Merasa tidak sreg dengan itu, akhirnya novel disita. Akhirnya ikutan baca deh. Baca bagian awal beberapa lembar dan bagian akhir beberapa lembar. Merasa ada yang aneh, akhirnya saya sedikit skimming keseluruhan buku.

Sedikit share ceritanya ya…

Kisah Cinta Insan dan Kamil bercerita tentang sosok Insan, seorang gadis yang bekerja sebagai manajer tim kreatif di sebuah perusahaan. Kerjaannya mendesain baju yang akan dilaunch oleh perusahaan tersebut. Sedangkan Kamil adalah bos besarnya, yang galak dan dingin. Yang mengagetkan, ceritanya ternyata dia dulunya “ikhwan” yang lumayan concern juga dengan dakwah, cuma karena lingkungan kerja Jakarta yang tidak kondusif, makanya urusan dakwah terpinggirkan. Insan berpacaran dengan Bintang, rekan kerja satu kantornya dan pacarannya sudah berjalan 5 tahun, tapi putus karena Bintang lebih memilih orang lain. Sedangkan Kamil pernah berpacaran dan hampir menikah dengan Pingkan, tapi Pingkan-nya kabur pas menjelang acara pertunangan. Di novel ini diceritakan bahwa jauh di lubuk hati, ada kerinduan Kamil untuk kembali pada suasana Islami, dakwah, jihad. Begitu pula dengan Insan yang diceritakan sebagai seorang hafidzoh, ada sisi-sisi dirinya yang digambarkan begitu “murni”.

Singkat cerita, Kamil akhirnya jatuh cinta pada Insan. Kamil pernah beberapa kali bermimpi yang dalam mimpinya dia melihat rumah Insan, dan ada seorang gadis berjilbab yang tersenyum padanya di rumah itu. Ketika pada suatu kali Kamil berkunjung ke rumah Insan, hatinya semakin mantap bahwa Insan adalah jodohnya. Begitu pula dengan Insan, kebimbangannya menerima ajakan Kamil untuk menikah lenyap karena dalam mimpinya ia melihat suatu pertanda yang mengarah pada Kamil juga.

Nah, endingnya, Insan yang sudah mantap hati menerima Kamil itu memutuskan menyusul Kamil yang saat itu sedang ada di Paris.

End.

Nah, saya mau bilang apa ya soal novel ini? Aneh, iya. Dangkal, mungkin. Setengah-setengah gituh…
Kenapa bisa bilang gitu?

Novel ini fiktif, memang. Tapi apakah semua hal harus dibuat fiktif? Saya kira tidak. Ada beberapa hal dalam novel ini yang tidak selaras dengan prinsip yang saya yakini dalam Islam.

Diceritakan di situ bahwa Insan adalah seorang hafidzoh. Anehnya :
1. Dia tidak berjilbab, sampai kemudian setelah dia hafal 30 Juz, dia memutuskan berjilbab.
2. Pacaran, sampai hampir 5 tahun sama Bintang
3. Salaman sama lawan jenis
4. Satu lagi, mau nyusul Kamil (yang bukan siapa2nya) ke Paris

Dan hafalannya tetap terjaga.

Ini yang saya sebut aneh.

Juga ada penggalan cerita yang menceritakan ketika Kamil berkunjung ke rumah Insan, mereka banyak menghabiskan waktu berdua : manjat pohon kelapa, makan kelapa bareng, kejar-kejaran di pantai, padahal belum halal satu sama lain.
Juga diceritakan kalau Kamil berkunjung ke apartemen Insan dan berbincang-bincang akrab. Juga diceritakan tentang Insan menemui Bintang (ketika udah putus) dan curhat tentang suatu masalah.

Begitukan profil seorang hafidzoh?

“ada banyak cara untuk menulis fiksi,
tapi bagi saya yang termudah adalah
memfiksikan seluruh fakta dan kejadian
yang ada di sekitar kita dalam tulisan.”

Kalimat di atas adalah status facebook Penulis novel tersebut. Dan saya sempat berbincang sedikit tentang konsep “fiksi” tersebut, sambil meminta izin memberikan komentar atas novelnya.

Apakah memang segala hal harus difiktifkan? Sampai-sampai profil seorang hafidzoh pun difiktifkan?

Saya memang belum merasakan bagaimana bisa menjadi penjaga 30 juz Al Qur’an. Yang saya rasakan, satu sampai dua juz terakhir saja susah untuk dijaga (itumah lo nya aja Eye… f’-.-). Makanya tadi sebelum menulis ini saya search dulu tema seputar menghafal Al Qur’an. Dan memang ternyata cukup sulit menjaganya. Salah satunya adalah menjaga diri dari kemaksiatan, juga sering mengulang-ulang hafalan.

Eh, betewe nih. Pacaran, jalan berdua, khalwat, maksiat gak? #garukgarukjidat

Apa jadinya kalo cerita semacam tersebut dibaca oleh anak-anak ABG “labil” seumuran SMP-SMA? Bisa jadi berfikiran bahwa pacaran itu boleh, jabat tangan sama lawan jenis itu ndak apa-apa, asal tetap rajin sholat, tetap menghafal Al Qur’an, tetap baik-baik sama temen, tetep rajin belajar dan bekerja…
Hm…tidak memungkiri banyak hal-hal baik di novel ini, tentang persahabatan, etos kerja, profesionalitas, dll. Saya cuma mengomentari sebagian saja dari keseluruhan novel.

Karena menurut saya, sefiktif-fiktifnya novel, tetap harus ada pegangannya, kecuali kalau ingin membuat novel full imaginatif macem Harpot atau Percy Jackson. Hahah. Itu sih udah nyerempet-nyerempet ke penyelewengan akidah. #ketularanliberaldahgw

“Menulis itu dakwah”.

Maap2 nih…saya memang belum bisa nulis novel yang baik…tapi gimana ye, kalo ada novel begini beredar, gak bisa gak komen…#garukgarukjidatlagi

 
4 Comments

Posted by on May 17, 2012 in Aroundisasi

 

Tags:

+_)(*&^%$#@!!!!!

Cinta memang fitrah.

Lalu apakah fitrah menjadi pembenaran atas tumbuh suburnya hal-hal yang belum semestinya?

Tidak. Tidak.

Karena setiap kita berhak memilih jalan manapun. Allah memberikan kemampuan untuk menentukan pilihan-pilihan. Allah memberikan banyak jalan bagi realisasi cinta-cinta-para-pejuang-Nya. Sedangkan pilihan untuk mawaddah itu nanti. Ada pintu gerbang yang harus dilewati dengan bekal ilmu dan iman. Sedangkan sekarang ada beribu pilihan lain yang bisa ditempuh hari ini, dari hanya sekadar merindu-rindu-alay, atau berangan-angan-lebay. Ada kerja-kerja yang butuh fokus, perjuangan, dan pengorbanan.

Apakah kita masih akan sibuk dengan diri sendiri?

Lalu berapa taksiran harga kita di mata Allah?
Sholat tepat waktu, jama’ah, plus qobliyah/ba’diyah? Hafalan quran/hadits? Tilawah harian? Tahajjud? Dhuha? Infaq? Binaan? hak-hak tetangga? silaturrahim? update berita? doain Palestin? aksi? baca buku?

Bukankah aku pernah berkata bahwa menjadi zero itu menyenangkan? Apakah benar sebuah ke-Zero-an itu sangat-sangat-susah?

Yang jelas, Allah kita itu sangat sangat sangat Maha Baik. Tidak akan menyusahkan dengan sesuatu yang tak sanggup ditanggung. Hanya saja apakah kita memang benar benar benar mau berusaha ke arah perbaikan?

Sungguh. Sungguh. Sungguh.

Menginginkan aku dan kalian fitri dalam kefitrahan.

#ngedumelin diri sendiri

 
1 Comment

Posted by on May 13, 2012 in Lookinside

 

Tags:

target

_ngopi_

Merasa belum serius menyebutnya dalam do’a,
juga ikhtiar.
apa benar ingin ke sana???

kata seseorang “Mahar gue ntar tiket ke Baitullah ah”
*nyengir. terserah panjenengan lah.

Ya Allahku,
sampaikan…

 
Leave a comment

Posted by on May 11, 2012 in Cerita Kata

 

Tags: