RSS

Just About Her

16 Apr

Telpon.
Ragu sejenak, Lila mengangkat ponselnya. Ibu.
“Bagaimana keadaannya? katanya trombositnya turun lagi?” tanya suara wanita paruh abad di seberang.
Lila melirik laki-laki di sampingnya. Terbaring lemah di kasur rumah sakit.
“Iya, turun jadi 75.000.” kata Lila datar. Tapi seketika ia tertegun. Di seberang sana ada suara tangis perempuan separuh abad itu.
“Pikiranku macam-macam dari tadi. Apa dia mengalami pendarahan? Lagi apa sekarang?Trombosit itu apa sih?”
Lila menjelaskan tentang keadaan saudara laki-lakinya itu, lengkap. Sementara separuh pikirannya berkecamuk yang lain.

Ibu, laki-laki ini sudah terlalu banyak membuat ibu menangis di waktu-waktu sebelumnya. Laki-laki ini yang sering menunda-nunda melaksanakan perintahmu. Bahkan sering hampir tidak melaksanakannya. Laki-laki ini yang sering menyakiti hatimu. Laki-laki ini yang sering membuat maagmu kambuh karena tingkah polahnya yang tak karuan. Laki-laki ini yang sering membuatmu tak cukup terlelap nyenyak.
Tapi kenapa kau masih bisa menangis untuknya? Mengkhawatirkannya, dan bahkan berencana menjemputnya dari ratusan ribu kilometer di sana.

Mungkin aku harus menjadi seorang ibu untuk dapat mengertimu.

#a little edit from a true story.

Allahummaghfirlana dzunubana wa dzunuba walidaina warhamhuma kama robbayana sighoro…
Ingin kubalas engkau dengan sebuah mahkota kehormatan di mahsyar nanti.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2012 in XX

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: