RSS

61-3

15 Mar

Seratus enam puluh delapan dari dua ratus sembilan puluh dua messejs di inbox N6303i yang diamanahkan kepada saya ini berisi kata-kata high-class yang sering disebut orang sebagai “sms tausiyah”. Mungkin sekitar 1,5-2 MB ia makan tempat.
Dari bermacam orang (semoga Allah menyayangi mereka) : saudara se-SMA, seangkatan, sekamar aliff, seolimp, se-FSLDK, selingkaran, se-AH, adik tingkat, kakak tingkat, Mr.8, Mbak-mbak, kakak-kakak, nomer tak dikenal,,,ya. Itu udah.
Dengan frekuensinya masing-masing : 1-2-3-4-5-10-15-50-…
Dengan khasnya masing-masing : cara menyingkat kata, cara menyusun kalimat, tema-tema yang dibahas…
^pentinggaksih^
Penting, kok. Setidaknya buat saya.

Bagi yang sengaja atau tidak sengaja membaca ini, sungguh saya bukan bermaksud tidak baik. Bukaaan sama sekali. Saya hanya mengingatkan kembali diri saya sendiri untuk sebuah improvement, konsisten dan -sebuah kata ajaibb- ISTIQOMAH.

Menulis itu mengungkap pikiran. Mengungkap identitas. Seperti dakwah -yang juga adalah pengungkapan identitas-. Menulis bisa jadi sarana dakwah meski dakwah tidak harus dengan menulis, bukan begitu bukan.
Saya sering memastikan kepada diri sendiri, apakah seseorang yang menulis itu sama dengan seseorang yang berbicara? Esensinya sama, sama-sama menyampaikan ‘sesuatu’. Nah permasalahannya, ‘sesuatu’ yang disampaikan itu harus ‘sesuatu’ yang bagaimana ? Harga mutlak bagi saya bahwa ‘sesuatu’ itu adalah ‘sesuatu’ yang telah mengalami « sesuatu ». *duhapasiheyeeee
« sesuatu » ini sering disebut implementasi, amal nyata. Sebuah tahap-ketiga, setelah kepahaman dan keikhlasan, sebuah pembeda antara pemain dan komentator.
Jadi, sebenarnya sih cuma mau bilang begini : jika esensi menulis itu sama dengan berbicara, maka berlaku hukum bahwa seseorang hanya pantas menulis apa yang telah ia amalkan, sama seperti “seseorang hanya pantas berkoar-koar tentang sesuatu yang ia sendiri telah mengamalkannya”. Jederrr. Ini boomerang mematikan buat saya yang suka sok-sok menulis banyak-banyak tapi masih sering error, yang suka kirim sms tausiyah tapi masih banyak bolong-bolong amal. Ya Rabb…
Nah, lebih-lebih lagi dari seseorang yang suka ber-sms tausiyah, adalah seseorang yang punya blog *nguk*, seorang kolumnis, seorang penulis buku, and semacam-macam itu.
Al fahmu -> al ikhlas -> al ‘amal -> menulis, kalo mau -> ‘amal terus -> tambahin terus al fahm-nya -> jaga terus ikhlasnya -> tingkatin terus kualitas amalnya -> sembari keep writing.
Jika menulis dari hati maka insyaallah akan dibaca oleh hati. Seperti beberapa messejs tausiyah yang timingnya sangat-sangat-sangat tepat datang ke inbox saya. Seperti tamparan seketika. Meyakinkan saya bahwa si pengirim adalah hamba-hambaNya yang baik, yang terpilih untuk meluruskan kembali diri saya, yang pantas diteladani.
Semoga Allah menyayangi ikhwahfillah semua.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on March 15, 2012 in QS

 

One response to “61-3

  1. novaliantika

    March 20, 2012 at 11:29 AM

    *jleb*
    terus berupaya yuk 🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: