RSS

Monthly Archives: June 2010

Para pencari Hikmah, jadilah.

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dia mengingatkan hamba-Nya dengan berbagai cara, yang unik.
Seperti yang aku dan seorang teman cermati selama beberapa hari terakhir.
Tempat tinggal kami ada jaringan internetnya. Kami bisa berselancar tak kenal waktu. Sarana yang sangat bermanfaat untuk mengakses segala informasi yang dibutuhkan tanpa batas jarak dan waktu.
Apa yang unik di sini? Beberapa hari terakhir kami perhatikan bahwa koneksi ke internet selalu bermasalah ketika tepat jam masuk waktu sholat. Entah itu sholat magrib, ashar, maupun dhuhur (waktu-waktu yang kami amati). Hal ini terjadi beberapa kali padaku dan seorang teman. Belum dikonfirmasi ke yang lain apakah mengalami hal yang sama atau tidak. Kami hanya mengambil hikmah bahwa Allah sedang mengingatkan untuk TIDAK MENUNDA-NUNDA SHOLAT. Apalagi hanya disibukkan oleh berselancar di dunia maya. Yang walaupun itu sangat penting pun, itu adalah sesuatu yang bisa ditunda dan bukan kewajiban ilallah.
Mirip sebuah kisah masa SMA dulu. Kisah di depan kamar kecil SMA. Siang, sekolah sepi. Dan saya biasa menghabiskan waktu lebih banyak daripada yang lain di sekolah. Karena jalanan 4,5 KM terlalu panas untuk seorang pengayuh sepeda. Saat itu ceritanya sedang punya sebungkus permen, the only. Saat membuka bungkusnya…ah! Jatuh dah tu permen sebutir. Hh. Sempat berfikir untuk meninggalkan, tapi entah kenapa ada dorongan untuk memungutnya, dan saya tergerak untuk mencucinya di kamar mandi. (ada yang berfikir kalo itu jorok? Haha! Terserahlah. Sejak kecil, Ibu mengajari saya untuk sama sekali tidak menyisakan makanan. Dan sekarang ketika tahu dari hasil pengujian bahwa air kamar mandi itu tak sebersih seperti kelihatannya,,, ehm…. Lain cerita.). Singkat cerita, masuklah saya ke kamar mandi A untuk mencuci permen-the only saya itu. Tapi anehnya baru satu langkah urung saya masuk. “ah ke kamar mandi sebelahnya aja”. Dan apa yang terjadi? Ternyata KM tempat saya masuk itu airnya penuh, luber kemana-mana, tanpa suara yang terdengar jelas dari luar. Oooh…jadi ini maksud Allah menuntun saya ke KM ini dengan jatuhnya permen tadi toh…segera saya matikan air KM itu. Mencegah kemubadziran tingkat lanjut.
Mari mencari. Temukan tanda-tanda peringatan Allah untuk kita, sekecil apapun. Jadilah para pencari hikmah.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 16, 2010 in Lookinside

 

ShouHar inspiratif

Kala fajar hendak berpendar
mentari pun belum bersinar
sebongkah dendam membara
memburu hamba nan bersahaja
raganya tak seperti kita
namun semangatnya menembus semesta
dari kursi roda mengguncang dunia
untuk kemerdekaan Palestina
Darah membuncah menyinari bumi
tubuhnya terhempas tercabik
Namun dia hidup di sisi Illahi
dalam nikmat abadi
Selamat jalan hai Mujahid
Doa kami mengiringi
Dengan jiwa nan tentram suci
kepada Allah kembali…
Syeikh Ahmad Yasin…

 
Leave a comment

Posted by on June 11, 2010 in Cerita Kata

 

Lir ilir…Lir ilir…

Lir ilir lir ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak senggoh temanten anyar
cah angon cah angon penekno blimbing kuwi
lunyu lunyu penekne kanggo masuh dododiro
dododiro dododiro kumitir bedah ing pinggir
dondomono jlumatana kanggo sebo mengko sore
mumpung padang rembulane
mumpung jembar kalangane
sun surako surak hiyo…

ini lagu Jawa, dari salah satu Sunan Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa di masa awal perkembangannya.
Artinya sangat mendalam, jika ditelusuri.

Lir ilir, lir ilir tandure wis sumilir (Lir ilir, lir ilir tanamannya sudah mulai bersemi)
>> lir-ilir : Sayup-sayup bangun (dari tidur), tanaman : agama Islam.

Tak ijo royo – royo (Hijau Royo royo)
>> agama Islam tumbuh subur di Tanah Jawa. Yakni hijau sebagaiman simbol umum agama Islam. Dalam politik indonesia pun dulu ada istilah “penghijauan di MPR”, dimana MPR yang dulu (sebelum 1989) banyak didominasi non muslim mulai terisi oleh praktisi2 dari kelompok Islam.

Tak sengguh temanten anyar (demikian menghijau bagaikan pengantin baru)
>> sedemikian maraknya perkembangan masyarakat untuk masuk ke agama Islam, namun taraf penyerapan dan implementasinya masih level mula, seperti penganten baru dalam jenjang kehidupan pernikahannya. Ada juga penafsiran yang mengatakan bahwa pengantin baru maksudnya adalah raja2 jawa yang baru masuk Islam.

Cah angon – cah angon penekno blimbing kuwi (Anak-anak penggembala, panjatkan pohon blimbing itu )
>> Kenapa cah angon ? Hadits Rasul “Al-Imaamu Ro’in” (Imam adalah Pemimpin/Penggembala). Ro’in dalam bahasa arab artinya secara bahasa penggembala dan secara urf (adat arab) juga untuk menyebut sebagai pemimpin.
>> Kenapa Belimbing : Inget : belimbing itu warnanya ijo (ciri khas Islam) dan memiliki sisi 5. Jadi, belimbing adalah isyarat agama Islam itu sendiri, yang tercermin dari 5 sisi buah belimbing yang menggambarkan Rukun Islam.

>> Kenapa penekno (ambilkan) : Inilah seruan tholabun nushroh para wali kepada para penguasa di Jawa, agar mereka bersedia mengambil Islam itu agar masyarakat bisa mengikuti langkahnya dan dengan itu aturan Islam dapat diterapkan ke masyarakat. Tidak mungkin Islam terterapkan kaffah tanpa ada kemauan penguasa “mengambil” Islam sebagai agama dan sistemnya. Para penafsir lagu lir-ilir kebanyakan tidak sasmito terhadap penggunaan kata2 penekno belimbing ini .. Kalau cuman sekedar belimbing sih biasanya anak kecil juga bisa ambil sendiri, tapi ini menggunakan kata “penekno” yang artinya adalah ambilkan buah itu untuk saya, kami dan mereka semua. Dan juga bukan peneken (panjat dan ambil untuk dirimu sendiri). Jelas ini artinya adalah seruan para wali agar raja bersedia mengimplementasikan Islam untuk masyarakat umum.

Lunyu – lunyu penekno kanggo mbasuh dododiro (Biar licin tetap panjatkan untuk mencuci pakaian-mu)
>> dodod : sejenis pakaian jawa (katanya sih seperti kemben)
>> walaupun berat ujiannya, walaupun banyak rintangannya karena masuk agama Islam itu berkonsukuensi luas baik secara keluarga, sosial dan politik, maka tetap anutlah Islam untuk membersihkan aqidahmu dan menyucikan dirimu dari dosa dosamu. Demikian juga pasti sangat berat rintangan untuk melaksanakan syariat Islam itu ditengah masyarakat, karena pasti akan berhadapan dengan agama, adat istiadat serta sistem yang telah terbangun dimasyarakat.

Dododiro – dododiro kumitir bedah ing pinggir
Pakainmu itu tertiup2 angin dan sobek di pinggir pinggirnya
>> kumitir : bayangkan kain yang dijemuran dan tertiup2 angin lalu terlihat pinggir kain itu sobek2. Yang dimaksud disini adalah ketika para raja itu sudah masuk Islam, maka masih ada hal hal yang belum Islam kaffah, masih ada cacat2 di aqidah-nya sebab masih terpengaruh oleh hindu jawa.
>> Bedah ing pinggir : barangkali yang dimaksud pinggir sini adalah masyarakat bawah (pinggiran), dimana pada mereka masih kurang memahami dan kurang melaksanakan Islam sebab banyak masyarakat awam belum tersentuh dakwah atau belum komitmen di Islam.

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore (Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore )
>> Betulkanlah penyimpangan2 itu baik pada dirimu atau pada masyarakatmu untuk persiapan kematianmu
>> sebo : menghadap = sowan. Mengko sore : nanti sore (waktu ajal). Usia senja : usia tua mendekati masa akhir.
>> Pesan dari para wali bahwa kamu itu wahai raja .. pasti akan mati dan akan menemui Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan diri, keluarga dan masyarakat yang kamu pimpin. Maka benahilah dan sempurnakanlah keislamanmu dan keislaman masyarakatmu agar kamu selamat di Hari Pertanggung Jawaban (yaumul Hisab)

Mumpung padang rembulane (Selagi terang (sinar) bulan-nya)
>> Para wali mengintatkan agar para raja melaksanakan hal itu mumpung masih terbuka pintu hidayah menerima Islam dan masih banyak ulama2 yang bisa mendampingi beliau untuk memberikan nasehat dan arahan dalam menerima dan menerapkan Islam.

Mumpung jembar kalangane (Mumpung luas kesempatannya)
>> Mumpung si Raja masih menduduki jabatan sebagai penguasa. Nanti perkaranya atau kesempatan melaksanakan ini akan hilang bila raja tersebut sudah tidak menjadi penguasa.
>> Kalangan bisa juga berarti pendukung sehingga maknanya juga bisa : mumpung selagi banyak pendukungnya
>> bagian ini sangat menjelaskan bahwa lagu ini adalah tholabun nusrhoh para wali kepada raja raja agar raja memanfaatkan kesempatannya (sebagai raja) untuk disamping masuk Islam juga terlibat aktif dalam penyebaran dan pelaksanaan syariat Islam di wilayahnya (tanah Jawa).

Sun surako surak hiyo (Mari bersorak-sorak ayo…)
>> Sambutlah seruan ini dengan gembira “Ayo kita terapkan syariat Islam” …. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)
>> Mustinya pejabat pusat ataupun daerah sekarang ini juga dinyanyikan lagu ini. Kalau mereka waskito lan tanggap in sasmito (bijak dan tanggap terhada tanda2), maka mereka isnyaAllah akan bersedia melaksanakan syariat Islam.
Bagaimana dengan kita ? adakah terpanggil dengan lagu lir-ilir ini?

(just codif (copy modif) dari salah satu MP, semoga bermanfaat…)

 
Leave a comment

Posted by on June 8, 2010 in Cerita Kata

 

diam saja-lah, Eye.

Itulah kenapa aku tak suka bicara padamu…
Karena satu isyarat dariku itu telah mewakili seribu kata
Sedangkan satu kata bisa menghambarkan semilyar makna
Aku tak suka.

Itulah kenapa aku tak suka bicara padamu…
Karena perasaan ini terlalu dalam untuk diungkapkan…
Dan aku bukan orang yang pandai berkata-kata…
Kita hanya perlu diam dan saling mengerti. Itu saja.
Karena ketika aku bicara, banyak silat lidahku yang kukhawatirkan menjadi gerbang syaitan
Dan membuat salah paham antara kita

Pun ketika tadi, kuungkapkan itu padamu, pada kalian,
Sama saja kalian tak mengerti apa sesungguhnya yang kurasakan
Dan dalam rasaku semua menjadi hambar sama sekali, seketika.
Tapi,,,aku tak menyesal pernah bicara denganmu, dengan kalian, tentang semua yang kupikirkan
Bukan yang kurasakan.

Jangan pernah paksa aku tuk mengaku.
Nanti. Nanti saja. Saatnya akan tiba, ukhty…

(usai UG Salam, kedua kalinya.)

 
Leave a comment

Posted by on June 6, 2010 in Lookinside