RSS

Monthly Archives: February 2010

MANUSIA-MANUSIA KERETA KELAS TIGA

Dengan kepentingannya masing-masing :

Duduk dan diam di kursi 2 untuk 3 dan 3 untuk 4, bagi yang beruntung

Berdiri terguncang-guncang, karena membeli tiket di 5 menit sebelum kereta datang,

Berbaring di bawah kursi penumpang, tidur dengan nyaman.

Menyemprot-nyemprotkan pewangi, yang memberikan harum sekilas di tengah hiruk pikuk penumpang, lumayan untuk menambah uang di saku

Merokok, (hyah!!) perbuatan menyebalkan sepanjang perjalanan,bener-bener ga toleran babar blas.

Menjaja gorengan, nasi, minuman, P** Mie, pecel, deelel, yang ribut dan main melangkah-langkahi orang yang duduk di jalan, sekehendak hati yang penting bisa lewat (haha! adakah yang benar-benar tidak sekehendak hati?)

Mengamen, dengan kricik-kricik, gitar kencrengan, dan suara pas-pasan (coba nasyidan,, keren tuh!)

Mencopet, bersenjatakan mata dan tangan yang wuih, mahir benar.

Juga yang katanya memeriksa karcis tapi tidak semua orang, entahlah.

Semuanya berebut sejengkal lantai di kereta, juga udara, juga kenyamanan jika tega bilang begitu.

Alhamdulillah, oksigen masih mengumbar dimana-mana.

Sehingga kami tak mati sesak dalam 9 jam perjalanan, Manggarai-Kutoarjo.

meski di sebelah sana WC bau dengan air ithir-ithir

dan keringat-keringat sore para aktivis kehidupan.

Petualang amateur, kata kakak. Dengan kereta kelas tiga merk Bengawan yang sudah tua itu.

Hanya bagian dari menikmati hidup.

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2010 in Cerita Kata

 

regret

bila benar bahwa perasaan itu memiliki kekuatan yang dahsyat untuk mengendalikan imaji menjadi super power yang merealisasikan mimpi-mimpi dengan menggerakkan seluruh potensi, lalu bagaimana kita dapat bicara dengan bebas tentang perasaan kita tanpa menimbulkan efek yang begitu besar yang mempengaruhi kita dan juga orang lain?

seberapa besar kita tlah digerakkan oleh perasaan-perasaan kita? menjadi seseorang yang menurutinya sekaligus menjadikannya kekuatan dalam menganalisis masalah-masalah kehidupan.

karena perasaan itu bisa berubah menjadi apapun : semangat, kesadaran tanpa kebangkitan, dugaan-dugaan pembenaran, lari yang begitu kencang, gerakan jari-jari untuk mengirim pesan dan bertanya dan ‘meneror’, atau sekadar tulisan-tulisan tentang rencana masa depan. lalu makhluk macam apa perasaan itu?

aku bingung bagaimana untuk membuatmu mengerti bahwa satu hal yang terlarang itu ya sudahlah tetap terlarang. dan menjauhinya saat ini menjadi hal yang begitu penting untukku, engkau, dan kita yang memegang norma Ilahiyah. percayalah menjadi zero itu menyenangkan, tanpa berusaha menghilangkan kekuatan perasaan itu sendiri. Suatu hari, kau pasti akan mengerti kenapa aku berbuat begini.

Zerobase. Sampai saat ketika jiwa ini menemukan penentramnya. Karena setiap jiwa akan menemukan penentramnya masing-masing. Tidak untuk sekarang. Karena kita tak memiliki satu hak pun untuk itu. Mengertilah. Mengertilah bahwa aku lelah untuk memahami. Harus dengan bagaimana?
Sementara misteri-misteri kejadian itu terjadi. Menjadikan bingung dan bingung. Kenapa tak terhenti juga setelah semua yang berusaha kulakukan? Kenapa tak juga mengerti?

Salahku. Semua salahku.

Itulah kenapa aku tak mau terlalu terlibat dengan terlalu banyak orang. Dan mypersonality.info itu membuktikan tentang 80% introvertku yang kupelihara hingga detik kutulis ini. menjadikan masalah ini masih menggantung dan menyisakan sesak tertahan.

Kutulis ini berharap bahwa ada yang akan membacanya dan mengerti bahwa aku tak ingin satu hal_misterius_yang_tak_bisa_aku_berbuat_apa_apa itu tak terulang lagi.

 
2 Comments

Posted by on February 16, 2010 in Cerita Kata

 

karena kita berbeda

Tulisan ini dibuat karena sedikit rasa penasaran saya tentang hal-hal yang oleh beberapa orang masih dipermasalahkan di kalangan kami, muslimah, khususnya di lingkungan saya sekarang.
##

Kita memang berbeda, dari awal Allah ciptakan kita.

Kromosom XX dan XY itu, berekspresi secara besar-besaran sehingga semakin lama kita semakin berbeda. Dan kromosom tubuh yang lain pun semakin menyesuaikan fungsi-fungsinya dalam perkembangannya.

Hingga Allah menurunkan banyak hukum-hukumnya tentang kita, yang semakin menunjukkan kespesifikan peran kita masing-masing. Dan kita seharusnya berjalan bersama aturan-aturan itu dengan harmoni. Dan akhirnya yang membedakan kita di hadapan Allah itu hanya taqwa…

Lihatlah bangun fisik kita Allah ciptakan. Anugerah mata yang sungguh menggembirakan. Warna-warninya dunia melukiskan dirinya dan menari-nari di bawah cahaya, hingga bayangannya tertangkap retina, sehingga sanggup kita nikmati sensasi indahnya. Namun dengan lembut Dia turunkan lampu kuning-Nya “menundukkan pandangan”.

Pun hidung, bibir, alis, pipi, dan keseluruhannya, menyusun sebentuk wajah yang enak dipandang. Wajah kaum hawa yang dibentuk oleh balutan jilbab rapi yang mengelilinginya. Tak apa-lah jika jilbab itu berwarna-warni sesuka hati kami, karena jelas tertulis bahwa “parfum laki-laki adalah yang tercium dan tidak tampak warnanya. Sedangkan parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad). Pun jika baju-baju warna cerah itu kami kenakan, tak ada hal esensi dengan itu selagi fungsi pakaian itu sempurna menutup. Kenapa harus dipermasalahkan dengan alasan -katanya- menarik perhatian?

Nikmat tangan ini memudahkan kita menyentuh, memegang, mengangkat, dan banyak sekali yang lain. Pun jari-jarinya didesain begitu indah dan efisien sehingga mudah digunakan. Kukunya? Hm… sunnah hukumnya untuk kami mewarnainya, atau mengenakan cincin di salah satu jarinya. Seperti kata Baginda Rasul ketika seorang wanita protes kenapa tidak mau menerima buku yang diberikannya, dan mengatakan “Sesungguhnya aku tidak mengetahui apakah itu tangan orang perempuan atau orang laki-laki”. Lalu wanita itu menjawab “ ia adalah tangan wanita”. Maka beliau berkata, “ Seandainya aku seorang wanita, niscaya aku akan merubah kukumu dengan daun pacar”. (HR. Abu Dawud dan An-Nasai). Lalu, salahkah jika sebagian kami memilih tidak mewarnai kuku dengan alasan dapat menimbulkan imaji yang aneh-aneh di pikiran lawan jenis? Tentu tidak. Tapi tolong jangan melarang orang yang memakainya dengan mengemukakan alasan yang sama. Karena ini adalah sunnah Rasul, dan alasan itu pun entah benar atau tidak. Yang aku tahu bahwa keharusan untuk saling menjaga itu telah jelas. Dan lampu kuning untuk ini, tangan pun tak boleh sembarang menyentuh, karena besi panas masih lebih baik dibandingkan bersentuhan kulit non muhrim.

Lalu tentang standar penjagaan kami, dapat dipastikan berbeda tiap individunya. Penjagaan yang terkesan kaku yang mungkin tampak, atau suasana akrab yang sengaja kami ciptakan, jangan itu dijadikan standar penilaian penjagaan hati kami, karena treatment setiap kami berbeda. Ada code of conduct yang jelas mengatur tentang bagaimana seharusnya. Hanya kami tak ingin menutupi diri kami yang sebenarnya, karena COC bukan untuk menjadikan kami makhluk yang seragam dalam bertindak, tapi seragam dalam markanya. Namun jika ada keberatan, kita dapat bernegosiasi dalam hal ini.

Mungkin hal-hal ini, sebagian atau seluruhnya, hanya isu yang berkembang di antara kami, yang sebenarnya dianggap tak masalah, apalagi oleh orang-orang yang berhati bersih. Tapi yang tidak menyenangkan adalah jika kami terantuk hal-hal yang tidak terlalu esensi, hanya untuk menjaga perasaan kaum Adam, yang entah bagaimana sebenarnya. Yang kemudian menimbulkan dzon tak jelas juntrungnya. Yang jelas saya tahu bahwa aturan itu telah jelas, sehingga kita harus saling menjaga…

 
6 Comments

Posted by on February 14, 2010 in XX