RSS

Aqila, dan 9 Januari

Sudah 3 bulan yang lalu semenjak siang itu 🙂

Melahirkan itu sakit. Iya gak bohong kok 😀

Tapi….

Hari itu pertama kalinya aku melihat wajahmu dalam raut yang begitu rupa. Khawatir, cemas, bercampur lelah meniti perjalanan dari ujung pulau Jawa, sembari terburu menghampiriku yang sedang ngaso sejenak dari kontraksi yang seakan tiada ujungnya. Sudah 13 jam saat itu. Tapi di satu sisi, aku suka. Hahaha. Setidaknya kemudian aku merasa bahwa kau pun ternyata begitu campur aduk perasaannya. Jadi berasa punya temen, gitu. *nyengir*

Kemudian…

Setelah segalanya, aku tak bisa berhenti tersenyum hari itu. Entah kenapa susah sekali untuk tidak tersenyum ketika menatap wajah mungil itu, apalagi saat memangkunya. Masyaallah, nikmat macam apakah ini…

Bahwa ternyata, diberi kesempatan menjadi ibu itu sungguh, sungguh, sungguh membahagiakan.

Ah jangan tanya tentang hari-hari pemulihan sesudahnya.

Jangan tanya tentang lika-liku perasaan harus LDRan.

Pada akhirnya semua berlalu kini. Dan kita kembali bersama. Bedanya, ada gadis kecil ini, yang memanggilku hampir tiap sejam sekali dengan rajukan manjanya. Yang selalu membuat wajahmu cerah ceria meski baru tiba dari penatnya bekerja. Yang membuat kita semakin bersadar diri bahwa ada sosok kecil yang butuh uswah hasanah setiap harinya.

Semoga doa-doa dan keshalihannya kelak, yang akan mengantar kita bertemu kembali di pintu penjagaan sang Malaikat rupawan nan menyenangkan hati, Ridwan ‘alaihissalam.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on April 17, 2016 in Uncategorized

 

:'(

Sekangen itu ternyata.

Sekangen gigitin jempolmu.

Sekangen ucek-ucek hidungmu.

Sekangen rebutan alpukat sama kamu.

Sekangen liat raut galakmu saat kuhabiskan silverqueen kita.

Sekangen genggamanmu kala ngojek berdua.

Sekangen berantem ngerumusin sebuah nama.

Tak kusangka. Sekangen itu.

Ah LDR segeralah berlalu…

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2016 in Uncategorized

 

The Title is Up to You

Oh hai blog, sini-sini cerita-cerita.

Kau tanya aku dimana sekarang? Aku disini. Sebuah desa yang sejuk-sejuk panas di pantai ujung timur jawa. Pantai yang bikin diriku gak pernah bosen untuk menyambut matahari pertama yang menyapa pulau Jawa. Gak pernah. Lautnya? Lautnya berombak, kadang tenang, kadang bergemuruh membuatku merinding, kadang surut jauh, dan kadang pasang, sampai menenggelamkan pantai tempat gw biasa pacaran. Di horizon sana tampak pulau Bali, memamerkan konturnya yang aduhai, sama sekali enggak menarik perhatian gw. Hehe… jangan tanya kenapa. Karena proposal pertama yang gw ajukan untuk berlayar ke Bali ditanggapi dengan satu kata final oleh si bos besar : negatif. Banyak madharat di sana katanya. Ahhahahaa…. Di satu sisi kita sepakat, bos. Tapi Bali bagiku bukan Bali itu sendiri. Tapi laut, dan kapalnya, dan perjalanannya, meski cuma beberapa menit. Ah mungkin belum waktuku untuk kembali merasakan alunan ombak di atas kapal.

Aku sibuk apa sekarang? Sibuk memahami dan mendalami karakter seseorang yang benar-benar baru ini. Baru kukenal lewat proposalnya yang kuterima pertengahan tahun lalu. Proposal yang bikin gw langsunggggg jatuh cinta. Tapi bukan padanya, tapi pada seseorang yang melahirkan dan membesarkannya. Iya, jauuuh sebelum aku benar-benar yakin untuk menerimanya, aku telah jatuh cinta sama umi. Ihhihi. Iso yo. Yah begitulah cinta, misterinya tiada akhir.

Sibuk bereksperimen di lab dapur (nasib seorang koki pre-beginner). Mencoba menu-menu hasil guglingan yang kadang hasilnya melebihi ekspektasi, tapi lebih seringnya ehm uhuk, ya gitu deh, setidaknya edible :D. Dan dengan kebesaran hatinya, dia memberikanku kesempatan bereksperimen. Pun kadang turut terjun jadi asistenku :D. Sampai akhirnya aku mulai tahu benar apa dan bagaimana seleranya.

Sepanjang umur pertemuan kami, pada beberapa hal aku kadang terhenyak. Terhenyak mendapati pola pikir dan pola rasa seseorang yang… yang… emm… unik. Dan aku mulai menyadari kesalahanku yang kadang mengukur pola rasa-nya dengan pola rasa-ku. Sehingga berujung pada percik-percik rasa tak nyaman, yang akhirnya menghasilkan pembicaraan-pembicaraan serius antara kami, saling membuka hati tentang bagaimana yang diinginkan oleh masing-masing. Sepertinya, pengenalan terhadapnya tak akan pernah usai.

Sibuk bersyukur. Mensyukuri nikmat Allah yang Dia karuniakan lewat seseorang itu. Mensyukuri kesabarannya atas omelan dan rengekanku, mensyukuri kebaikan hatinya, mensyukuri kedewasaannya, mensyukuri keluarga besar yang luar biasa, mensyukuri kegokilannya, mensyukuri kepekaannya terhadap semua mua ekspresi yang tercetak di mukaku :D. Dan overall, mensyukuri penerimaannya terhadapku, juga motivasi dan dukungannya untuk langkah-langkahku. Bersamanya aku merasa hidupku menjadi lebih rapih. Tertata. Bersama, kami menulis ulang mimpi-mimpi-ku dan -nya, menjadi mimpi utuh kami.

Juga kembali bersyukur, atas terkabulnya doa dan harapan gw tentang hidup di desa, jauh dari polusi dan kebisingan, jauh dari klakson angkot dan teriakan supir-supir, jauhhh dari M-A-C-E-T. (Itulah kenapa ketika seorang mbak itu menawarkan proposal padaku, proposal milik seseorang yang hidupnya bisa nomaden dan hampir pasti di pedalaman, aku dengan yakin menjawab No Problem 😀 ). Meski ya, meski, Giant yang dulunya kepleset nyampe, kini harus ditempuh dengan ngonthel sampe pinggang pegel-pegel. Yang dulu gampang aja bolak-balik pasar belanja ini itu, sekarang baru bisa seminggu sekali dan itupun tak pasti. Wkwk. Mendukung banget pokoknya buat menghemat kantong, hahaa… belanja onlen pun segan, karena ongkir yang bisa kena lebih mihil daripada harga barangnya. Yah ada hitam ada putih lah ya… ada merah ada juga biru.

Dan bersyukur lagi, atas karunia merasakan mantepnya perjuangan jadi calon bunda. Mualnya, lemesnya, pusingnya, gak doyan makannya, pait lidahnya, muntahnya, yummyyy… meski shaumnya harus membolong 2 hari (semoga no more), tetep aja, alhamdulillaah together with Allah we can, ya dek :*

Kata seorang teman, temannya pernah bilang kalau “menikah itu tak seindah bukunya Salim A Fillah”. Ahak uhuk. Iya sih. Tetapi, pernikahan yang kurasakan jauh lebih berwarna warni daripada sekadar yang digambarkan di buku-buku itu. Ihhihi, lebaykah gw? Ah enggak, biasa aja.

Yang jelas, buat gw, segala fakta, data, realita, rasa, dan apapun yang mesti gw hadapi kini dan ke depan, kata teh Kiki Barkiah, adalah alasan mengapa Allah menikahkanku dengannya. Karena bersama, insyaallah kami bisa lebih baik.

Itu ceritaku, dan aku gak akan nanya “mana ceritamu?”.

 
Leave a comment

Posted by on July 13, 2015 in Uncategorized

 

Ini

Terimakasih telah menggenggam erat. Terimakasih telah bersedia menjadi teman. Terimakasih telah menyediakan sandaran. Terimakasih untuk selalu mau mendengar. Terimakasih untuk selalu merasa. Terimakasih untuk setiap pemahaman. Terimakasih untuk setiap petunjuk langkah. Terimakasih telah melengkapi. Terimakasih telah menerima. Terimakasih telah menanggung. Terimakasih selalu mendidik. Terimakasih untuk setiap senyum. Terimakasih telah menjadi belahan jiwa.
Aku lalu bingung kenapa bisa sayang banget sama kamu.

Ujian selanjutnya kita adalah, benar-benar menyiapkan hatiku untuk sebuah perpisahan sementara. Dan sepertinya di titik itu melonitasku bakal mulai kambuh lagi. Ah dasar wanita.
Sudahlah. Seseorang yang kuat dibutuhkan untuk menghasilkan didikan yang kuat pula. Saatnya belajar buat nggak cengeng ya, Eye.

 
Leave a comment

Posted by on July 9, 2015 in Uncategorized

 

extraordinary random

….truly missing petrichore….

….when a story come to the last page….

….understanding you….

….awkward moment of ours….

….I miss the cool me….

….when the sky lost the stars….

….when everything messy enough to make me change to lizardy woman….

I wanna get the answer.

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2014 in Uncategorized

 

Belum sampai prolog.

Aku berlari-lari kecil dalam otakku. Lelah sekali. Tapi tak jua kutemukan engkau. Engkau selayak misteri. Tertutup tabir yang tak berkesudahan. Mungkin aku hanya harus diam dan sabar. Aku mengerti. Laut tak pernah mengirim gelombangnya hanya untuk menjadi buih lalu menghilang. Laut selalu memberi tanda. Laut adalah dzikir tanpa tepian. Itulah mengapa ia sanggup menjalankan bahtera. Riaknya bergemuruh menyiratkan kedalaman makna. Horisonnya adalah penebar harapan. Ada buih, ada gelombang, ada paus, ada topan. Dan di sanalah, segala ikrar diuji.

 
Leave a comment

Posted by on August 22, 2014 in Uncategorized

 

an unconscious consciousness

Hanya dua kata dan aku jatuh. Mungkin tepatnya menjatuhkan diri. Hanya dua kata dan berbuntut perenungan panjang. Meski sejenak lalu masih merasa segalanya seperti kilat kilat saja. Menyambar waktu tanpa menungguku menarik nafas. Hanya dua kata darimu hari itu, dan membuatku terkagum pada keteraturan semesta.

Dan di tempat berdiriku sekarang, aku melihat kembali ulas tayangan hari-hari terakhir. Sebuah keanehan tapi bukan sebuah kesalahan. Sebuah kebenaran namun menyisa tanda tanya. Dan di tengah segala abu-abunya hati, aku kembali sadar sedang berdiri di titik berapa. Sebuah koordinat persimpangan.

Aku ingin menuju nol.

 
Leave a comment

Posted by on July 3, 2014 in Uncategorized